Child Grooming: Manipulasi Berkedok Cinta Mengintai Anak
- 23 Jan 2026 12:07 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Fenomena child grooming kembali menjadi sorotan publik setelah maraknya perbincangan tentang relasi tidak sehat yang menyasar anak di bawah umur. Dalam program “Ronda” RRI Pro 2 Pontianak, isu ini dibahas secara mendalam bersama narasumber dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Clara Lipani, Kamis, 22 Januari 2026, yang menekankan bahwa praktik ini kerap luput dari kesadaran korban maupun lingkungan sekitar.
Clara menjelaskan, child grooming merupakan bentuk manipulasi yang dilakukan orang dewasa terhadap anak dengan tujuan membangun kepercayaan secara bertahap. “Sederhananya, pelaku ingin berbuat jahat tapi berpura-pura baik. Anak dibuat merasa aman, disayang, dan istimewa,” ujarnya.
Menurutnya, korban child grooming sering kali tidak menyadari bahwa relasi yang dijalaninya bersifat manipulatif. Hal ini disebabkan oleh usia anak yang masih polos dan belum mampu membedakan perhatian tulus dengan perhatian yang memiliki motif tersembunyi.
“Anak-anak biasanya senang ketika diberi hadiah atau perhatian lebih, tanpa tahu bahwa itu ada maksud lain,” kata Clara.
Ia juga mengungkapkan sejumlah tanda yang patut diwaspadai oleh orang tua dan lingkungan sekitar. Anak yang menjadi korban cenderung lebih sering berkomunikasi dengan orang dewasa tertentu, menarik diri dari pergaulan sebaya, serta mulai menunjukkan sikap menutup diri atau membangkang.
“Waktu dan emosinya lebih banyak tercurah ke pelaku dibandingkan teman seumurnya,” ucapnya.
Clara menekankan pentingnya peran keluarga dalam pencegahan. Pengawasan penggunaan gawai, media sosial, serta keterbukaan komunikasi antara orang tua dan anak menjadi langkah awal yang krusial. Namun, ia juga mengingatkan agar pengawasan tidak berubah menjadi pengekangan berlebihan.
“Kalau terlalu mengekang, anak justru bisa mencari kenyamanan di luar rumah,” ujarnya.
Dalam siaran tersebut, Clara menegaskan bahwa child grooming berbeda dengan relasi tidak sehat pada orang dewasa.
“Kalau sudah di atas 18 tahun, istilahnya bukan lagi child grooming, tetapi bisa masuk ke hubungan toksik. Anak di bawah umur jauh lebih rentan karena belum punya kematangan berpikir,” katanya.
Ia berharap masyarakat semakin peka terhadap isu ini dan tidak menganggapnya sebagai sekadar kisah cinta biasa. “Anak-anak belum seharusnya berada dalam relasi yang menuntut emosi, apalagi yang mengarah pada kekerasan atau eksploitasi,” kata Clara, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....