'Hydration Break' Warnai Piala Dunia 2026, Simak Sejarah dan Aturannya

  • 18 Jun 2026 07:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • FIFA menerapkan hydration break pada seluruh pertandingan Piala Dunia 2026 untuk menjaga kondisi fisik pemain.
  • Aturan jeda minum pertama kali diterapkan secara resmi pada Piala Dunia 2014 di Brasil.
  • Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi risiko heatstroke dan menjaga kualitas pertandingan di tengah cuaca panas.

RRI.CO.ID, Jakarta - Aturan hydration break atau jeda minum pada Piala Dunia 2026, bukanlah kebijakan yang baru. FIFA sebelumnya telah menerapkan aturan serupa pada Piala Dunia 2014 yang berlangsung di Brasil.

Kebijakan tersebut kembali menjadi perhatian setelah FIFA melakukan evaluasi terhadap sejumlah turnamen internasional sebelumnya. Salah satu pertimbangannya adalah kondisi cuaca panas yang dapat memengaruhi performa dan kesehatan para pemain.

FIFA telah mengumumkan bahwa seluruh pertandingan Piala Dunia 2026 akan menerapkan jeda minum selama tiga menit. Penghentian sementara pertandingan dilakukan pada pertengahan setiap babak untuk memberikan kesempatan pemain melakukan pemulihan.

Aturan tersebut diterapkan pada menit kedua puluh dua dan menit keenam puluh lima dalam pertandingan. Langkah itu diharapkan membantu pemain menjaga kondisi fisik selama menjalani pertandingan dengan intensitas tinggi.

Sejarah mencatat bahwa jeda minum pertama kali mendapat perhatian pada Piala Dunia Brasil tahun 2014. Saat itu, cuaca panas dan tingkat kelembapan tinggi menjadi tantangan bagi para pemain di lapangan.

Pertandingan antara Amerika Serikat dan Portugal di Manaus menjadi salah satu laga yang menerapkan jeda minum. Kebijakan tersebut awalnya dilakukan secara tidak resmi untuk membantu pemain menghadapi kondisi cuaca ekstrem.

Karena dinilai efektif, FIFA kemudian menerapkan jeda minum secara resmi pada pertandingan berikutnya di turnamen. Salah satu penerapannya terjadi saat Belanda menghadapi Meksiko pada babak enam belas besar kompetisi tersebut.

Ketika pertandingan berlangsung, suhu udara dilaporkan mencapai tiga puluh sembilan derajat Celsius yang cukup ekstrem. Kondisi tersebut meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi pemain yang bertanding sepanjang laga berlangsung.

Keselamatan Pemain Jadi Prioritas

Sebelum Piala Dunia 2014 dimulai, pengadilan ketenagakerjaan Brasil mengeluarkan ketentuan terkait perlindungan pemain sepak bola. Aturan tersebut mewajibkan penerapan jeda minum ketika indeks suhu tertentu mencapai batas yang ditetapkan.

FIFA kemudian mengikuti ketentuan tersebut sebagai bentuk komitmen terhadap keselamatan seluruh pemain yang bertanding. Kebijakan itu juga menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas pertandingan tetap berada pada level terbaik.

Pengukuran kondisi cuaca menggunakan indeks Wet-Bulb Globe Temperature atau WBGT yang lebih komprehensif. Indeks tersebut memperhitungkan suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, serta paparan sinar matahari secara langsung.

Metode tersebut dinilai lebih akurat dibandingkan penggunaan termometer biasa dalam menilai risiko cuaca panas. Hasil pengukuran membantu penyelenggara menentukan langkah yang diperlukan demi melindungi kesehatan para pemain.

Penerapan hydration break bertujuan mengurangi risiko heatstroke dan gangguan kesehatan lainnya selama pertandingan berlangsung. Dengan kondisi fisik yang terjaga, pemain dapat menampilkan performa terbaik sepanjang pertandingan.

Langkah tersebut juga membantu menjaga kualitas hiburan dalam sepak bola yang disajikan kepada penonton dunia. FIFA berharap seluruh pertandingan berjalan kompetitif tanpa terganggu masalah kesehatan akibat cuaca yang ekstrem.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....