PBB Minta AS Cabut Kebijakan Imigrasi jelang Piala Dunia 2026
- 11 Jun 2026 13:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Volker Turk mendesak Amerika Serikat meninjau kembali kebijakan imigrasi menjelang Piala Dunia 2026.
- Penolakan masuk terhadap wasit Somalia Omar Artan memicu kekhawatiran terkait akses peserta dan ofisial turnamen.
- PBB menekankan pentingnya penghormatan hak asasi manusia, inklusivitas, dan perlakuan setara selama penyelenggaraan Piala Dunia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa, Volker Turk, meminta Amerika Serikat meninjau kebijakan imigrasi menjelang Piala Dunia 2026. Permintaan tersebut muncul setelah sejumlah suporter, ofisial tim, dan perangkat pertandingan menghadapi kendala masuk wilayah Amerika.
Menurutnya, penyelenggaraan Piala Dunia 2026 harus tetap menjunjung prinsip keterbukaan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Ia menilai kebijakan keimigrasian yang terlalu ketat berpotensi memengaruhi partisipasi berbagai pihak dalam ajang olahraga dunia.
"Harapan kami terdapat perubahan nyata dalam penerapan kebijakan imigrasi agar tetap menghormati hak serta martabat manusia. Momentum Piala Dunia seharusnya menjadi ruang kebersamaan yang terbuka bagi seluruh peserta dari berbagai negara." katanya dalam keterangan resmi yang diterima RRI, Kamis, 11 Juni 2026.
Kekhawatiran tersebut menguat setelah wasit asal Somalia, Omar Artan dilaporkan tidak memperoleh izin memasuki Amerika Serikat. Padahal, Artan termasuk perangkat pertandingan yang telah dipilih untuk bertugas pada Piala Dunia 2026.
Kasus tersebut memunculkan perhatian berbagai pihak karena terjadi menjelang pelaksanaan turnamen sepak bola terbesar dunia tersebut. Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi pertama yang diselenggarakan bersama oleh tiga negara dengan format baru.
"Perubahan kebijakan yang diterapkan saat ini menimbulkan sejumlah persoalan yang perlu menjadi perhatian bersama seluruh pihak. Penyelenggaraan ajang olahraga internasional harus mengedepankan prinsip inklusivitas serta penghormatan terhadap hak setiap individu," ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menghindari praktik diskriminasi maupun pelabelan berdasarkan latar belakang tertentu dalam penegakan aturan. Menurutnya, pendekatan tersebut dapat berdampak pada pengalaman peserta maupun pengunjung selama berlangsungnya turnamen.
Ia menegaskan, perlindungan terhadap migran, pengungsi, dan pencari suaka harus tetap menjadi perhatian komunitas internasional. Komitmen tersebut dinilai penting untuk memastikan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan tetap terjaga secara global.
"Seluruh bentuk perlakuan yang mengurangi nilai kemanusiaan terhadap migran dan kelompok rentan harus segera dihentikan. Penghormatan terhadap hak asasi manusia perlu menjadi dasar dalam setiap kebijakan yang diterapkan negara," katanya.
Piala Dunia 2026 dijadwalkan melibatkan 48 negara peserta serta jutaan penggemar sepak bola dari berbagai kawasan. Karena itu, berbagai pihak berharap penyelenggaraan turnamen berlangsung lancar tanpa hambatan yang mengurangi semangat persatuan global.
Sebelumnya, Wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan menerima keputusan penolakan masuk Amerika Serikat menjelang Piala Dunia 2026. Meski gagal bertugas pada turnamen tersebut, ia memilih tetap fokus melanjutkan karier profesionalnya.
Ia sebelumnya masuk dalam daftar perangkat pertandingan yang disiapkan untuk ajang sepak bola dunia tersebut. Prestasinya sebagai wasit terbaik Afrika tahun 2025 membuat kehadirannya dinantikan pecinta sepak bola internasional.
"Meskipun menghadapi situasi sulit, saya tetap dalam kondisi baik dan fokus menghadapi tantangan karier berikutnya. Saya menghargai dukungan yang diberikan keluarga besar sepak bola dunia selama menghadapi peristiwa ini," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....