Gajah Diego Mati, Diduga Alami Infeksi Saluran Pencernaan Kronis
- 17 Sep 2026 14:13 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Siak — Kabar duka datang dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak, Riau. Gajah Sumatera jantan bernama Diego, berusia sekitar 17 tahun, dinyatakan mati pada Rabu, 16 September 2026, sekitar pukul 12.00 WIB.
Diego merupakan gajah binaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau yang selama ini dirawat di PLG Minas. Sebelum mengembuskan napas terakhir, tim dokter hewan BBKSDA Riau telah memberikan perawatan medis secara intensif selama beberapa hari.
Plh Kepala BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, menjelaskan, kondisi kesehatan Diego mulai mengalami penurunan sejak 10 September 2026. Saat itu, Diego mengalami diare dan penurunan nafsu makan.
Tim medis BBKSDA Riau kemudian melakukan pemeriksaan. Dari pemeriksaan awal ditemukan beberapa cacing pada kotoran yang dikeluarkan Diego sehingga saat itu gajah tersebut didiagnosis mengalami cacingan.
"Tim medis kemudian memberikan obat antibiotik, antiradang atau antiinflamasi, serta obat cacing,” kata Ujang dalam keterangan pers, Kamis 17 September 2026.
Setelah menjalani pengobatan intensif selama beberapa hari, kondisi Diego sempat menunjukkan perkembangan positif. Nafsu makannya meningkat dan bentuk kotorannya kembali normal. Pemeriksaan feses kemudian dilakukan di Laboratorium PPS Yayasan Arsari Djodjohadikusumo di Pekanbaru dan hasilnya menunjukkan negatif cacing.
Namun, kondisi Diego kembali memburuk pada 15 September 2026. Mahout melaporkan Diego dalam keadaan sakit dengan kondisi tidak mau makan sama sekali, mengalami diare dengan frekuensi sering dan hanya mengeluarkan cairan, serta terlihat sangat lemah.
Aktivitas minumnya juga sangat minim. Pada pagi hari Diego hanya minum sekitar lima tegukan, kemudian tiga tegukan saat hendak diberikan obat pada siang hari, dan satu tegukan ketika dimandikan pada sore hari.“Tim medis BBKSDA Riau kembali melakukan penanganan dengan memberikan cairan infus, obat-obatan suportif berupa vitamin, serta obat antiradang dan antiinflamasi. Sampel feses juga diambil untuk pemeriksaan parasit,” jelasnya.
Pada 16 September 2026, tim medis kembali melakukan penanganan lanjutan. Saat tim hendak melakukan pengambilan sampel darah, pemberian cairan infus, dan pengobatan lainnya, kondisi Diego tiba-tiba memburuk.
Diego terduduk dan kemudian tumbang. Tidak lama berselang, tanda-tanda vitalnya menghilang. Diego dinyatakan mati sekitar pukul 12.00 WIB.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan bangkai atau nekropsi, kematian Diego diduga disebabkan oleh infeksi saluran pencernaan yang bersifat kronis. Untuk memastikan diagnosis, tim medis BBKSDA Riau mengambil sejumlah sampel organ untuk pemeriksaan laboratorium lebih lanjut,” ujar Ujang.
Setelah seluruh proses pemeriksaan selesai, jasad Diego kemudian dikuburkan sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Diego lahir pada 3 September 2009 dan dibesarkan di PLG Minas. Gajah jantan tersebut merupakan anak dari induk betina Vera dan induk jantan Reno. Selama berada di PLG Minas, Diego menjadi salah satu gajah binaan yang turut berperan dalam menyambut para pengunjung.
BBKSDA Riau menyampaikan penghargaan kepada seluruh dokter hewan, paramedis veteriner, mahout, serta petugas lapangan yang telah memberikan perawatan kepada Diego secara intensif.
BBKSDA Riau juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian gajah Sumatera yang masih menghadapi berbagai ancaman terhadap kelangsungan hidupnya.
Upaya konservasi gajah Sumatera dinilai membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari menjaga habitat, mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar, hingga mendukung program perlindungan dan penyelamatan gajah di Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....