Ramadan sebagai Automatic Stabilizer Ekonomi dalam Perspektif Islam

  • 24 Feb 2026 14:28 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Salah satu bulan yang sangat dinanti oleh umat Islam adala Ramadan. Selain sebagai bulan yang penuh dengan momentum peningkatan ibadah spiritual, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme penyeimbang ekonomi masyarakat.

Dalam Program “Tanya Ustad” yang disiarkan di Programa 2 RRI Pekanbaru, Sabtu 21 Februari 2026, Dahlan Tampubolon, menjelaskan konsep stabilitas ekonomi sebenarnya telah diajarkan dalam Islam sejak lebih dari 14 abad lalu.

"Ramadan menjadi bulan yang paling dinantikan, tidak hanya oleh mereka yang berkecukupan, tetapi juga oleh masyarakat yang membutuhkan dukungan ekonomi untuk memperbaiki kondisi hidupnya," ungkap Dahlan Tampubolon, melalui zoom meeting bersama Programa 2 RRI Pekanbaru.

Dikatakannya, Islam telah mengatur mekanisme distribusi pendapatan melalui Al-Qur’an, hadis, dan berbagai literatur keislaman. Prinsip berbagi melalui zakat, infak, dan sedekah menjadi instrumen penting yang mengalir secara aktif selama Ramadan.

Empati dalam Islam disebut sebagai modal sosial yang memengaruhi perilaku ekonomi umat. Nilai tersebut tercermin dalam cara masyarakat membelanjakan uang, memberikan upah, membuka kesempatan kerja, hingga menentukan prioritas bantuan kepada yang membutuhkan.

"Ramadan kemudian dipandang sebagai 'automatic stabilizer' atau penyeimbang otomatis. Ketika bulan suci tiba, masyarakat secara sadar meningkatkan aktivitas berbagi tanpa harus menunggu kebijakan administratif atau peraturan resmi," kata Dahlan.

Kesadaran spiritual yang meningkat mendorong perputaran ekonomi yang lebih merata. Aktivitas konsumsi meningkat, bantuan sosial meluas, dan solidaritas sosial tumbuh secara alami.

Dengan demikian, Ramadan bukan hanya bulan ibadah ritual, tetapi juga sistem sosial yang memperkuat keseimbangan ekonomi melalui distribusi empati yang berlangsung secara otomatis di tengah masyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....