Mengenal Bubur Hare, Warisan Kuliner Batak Toba
- 17 Agt 2026 15:57 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID. Pekanbaru - Di tengah semakin populernya kuliner Batak Toba, Bubur Hare menjadi salah satu makanan tradisional yang masih menyimpan cerita tentang pengetahuan, tradisi, dan kearifan lokal masyarakat. Hidangan berbentuk bubur ini dikenal dalam masyarakat Batak Toba, khususnya di wilayah Porsea, Kabupaten Toba, Sumatera Utara.
Bubur Hare memiliki karakter yang berbeda dari bubur pada umumnya. Makanan ini dibuat dari tepung beras yang dimasak bersama berbagai rempah dan tanaman tradisional yang dikenal masyarakat Batak Toba. Perpaduan bahan tersebut menghasilkan hidangan bertekstur lembut dengan aroma dan cita rasa khas.
Penelitian Siska Anita Sitorus dari Universitas Negeri Medan (UNIMED) pada 2020 mencatat Hare sebagai makanan tradisional etnik Batak Toba di Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara, observasi, dan studi literatur untuk menggali latar belakang, bahan, proses pembuatan, serta keberadaan Hare di tengah masyarakat.
Dalam Ensiklopedia Kebudayaan Kawasan Danau Toba yang diterbitkan Balai Pelestarian dan Nilai Budaya Aceh pada 2021, Hare dijelaskan sebagai bubur beras yang diberi bumbu atau rempah. Ensiklopedia tersebut juga menyebut Hare sebagai makanan lembut yang dibuat dari tepung beras, kemudian dimasak dengan berbagai rempah dan tanaman tradisional yang terdapat di daerah Batak Toba.
Keberadaan Bubur Hare tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga memiliki hubungan dengan tradisi masyarakat Batak Toba. Hare pada masa lalu secara khusus diberikan kepada perempuan yang sedang mengandung dan menjadi bagian dari tradisi tujuh bulanan. Pada masa lalu pembuatan Hare berkaitan dengan peran sibaso, sebelum kemudian masyarakat umum mulai membuatnya seiring perubahan zaman.
Istilah mangharei berasal dari kata dasar hare dan merujuk pada kegiatan membuat serta memberikan bubur beras. Dalam tradisi tersebut, Hare diberikan kepada perempuan yang sedang mengandung sebagai bagian dari doa agar calon bayi selamat dan proses persalinan berjalan lancar.
| Baca juga: Es Serut Kini Langka |
Karena berkaitan dengan tradisi dan keyakinan masyarakat, manfaat kesehatan yang dipercaya secara turun-temurun tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari pengetahuan budaya, bukan sebagai klaim medis.
Bahan yang digunakan dalam pembuatan Hare menunjukkan kuatnya pemanfaatan sumber daya lokal dalam kuliner masyarakat Batak Toba. Sejumlah bahan yang digunakan seperti tepung beras, kunyit, simarateate, telur, hasihor, air holat, merica, simarsintasinta, akar purba jolma, nangka, semangka, pisang, kencur, jahe, susu kerbau, kaldu ayam, madu, dan timun. Tidak seluruh bahan tersebut harus digunakan dalam satu sajian karena resep dan praktik pembuatannya dapat berbeda.
Penggunaan rempah dan tanaman tradisional tersebut membuat Hare memiliki karakter rasa dan aroma yang membedakannya dari bubur yang lebih umum dikenal masyarakat.
Keberadaan Hare saat ini menghadapi tantangan. Makanan tradisional ini semakin sulit ditemukan akibat beberapa faktor, di antaranya berkembangnya pengobatan modern, semakin sulitnya memperoleh bahan utama, serta perubahan selera makanan masyarakat Porsea.
Perubahan bahan dan cara pengolahan juga terjadi seiring perkembangan zaman. Penelitian tersebut mencatat bahwa bahan-bahan tradisional dalam pembuatan Hare mulai digantikan dengan bahan yang lebih praktis atau instan.
Kondisi tersebut membuat keberadaan Hare bukan sekadar persoalan kuliner, tetapi juga berkaitan dengan upaya menjaga pengetahuan tradisional agar tidak hilang dari generasi ke generasi.
Hare memperlihatkan bahwa makanan tradisional dapat menjadi bagian penting dari identitas budaya sebuah masyarakat. Di dalamnya terdapat pengetahuan mengenai bahan pangan, rempah, proses pengolahan, hingga nilai yang menyertai penyajiannya.
Hare merupakan makanan khas masyarakat Porsea dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Batak Toba. Penelitian tersebut juga mendorong pengenalan makanan tradisional kepada generasi muda serta perlunya dukungan untuk menjaga keberadaannya.
Sementara itu, tradisi mangharei kini mulai jarang dilakukan sehingga perlu direvitalisasi. Bagi masyarakat Batak Toba, Bubur Hare pada akhirnya bukan hanya makanan yang menghangatkan tubuh. Ia menjadi bagian dari warisan pengetahuan dan tradisi yang merekam hubungan masyarakat dengan lingkungan, bahan pangan lokal, serta nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....