Oluo dan Nisan Kuok, Rasa Manis Tradisi yang Mulai Langka

  • 20 Mei 2026 19:52 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Di tengah derasnya arus makanan modern, masyarakat Desa Kuok, Kabupaten Kampar, Riau, masih menyimpan jejak kuliner tradisional yang sarat makna budaya. Salah satunya adalah oluo, makanan khas berbahan dasar nisan atau gula tebu tradisional yang dahulu menjadi bekal perjalanan hingga suguhan istimewa saat Lebaran.

Kuliner ini bukan sekadar makanan manis biasa. Di balik cita rasanya, tersimpan kisah kebersamaan, tradisi gotong royong, hingga cerita muda-mudi desa yang dahulu berkumpul dalam proses “menggelek tobu” atau menggiling tebu secara tradisional.

Dalam Jurnal Fakultas Pertanian, Universitas Riau dipaparkan bahwa sejak zaman dahulu, masyarakat Desa Kuok memanfaatkan tanaman tebu sebagai bahan utama pembuatan nisan, yakni gula tradisional khas daerah tersebut. Proses pembuatannya dilakukan secara manual menggunakan alat penggiling sederhana dari batang kayu kelapa.

Aktivitas menggelek tobu bukan hanya pekerjaan membuat gula. Kegiatan ini juga menjadi ruang sosial masyarakat. Warga dari berbagai dusun berkumpul, saling membantu, sekaligus menjadi ajang perkenalan muda-mudi pada masanya.

Namun kini, tradisi tersebut mulai jarang ditemui. Produksi gula pasir modern yang lebih praktis membuat pembuatan nisan perlahan ditinggalkan. Selain membutuhkan waktu panjang, proses menggelek tobu juga memerlukan tenaga dan kebersamaan banyak orang.

Dari nisan inilah lahir oluo, makanan tradisional berwarna coklat dengan tekstur menyerupai wajik. Oluo dibuat dari campuran nisan, beras ketan, dan santan kelapa matang yang dimasak dalam waktu cukup lama hingga menghasilkan rasa legit khas.

Pembuatan oluo juga tidak sederhana. Beras ketan terlebih dahulu direndam sekitar satu jam, lalu disangrai hingga sedikit kecoklatan sebelum digiling dengan tekstur agak kasar. Tekstur inilah yang menjadi ciri khas oluo karena menghadirkan sensasi mengunyah butiran beras saat disantap.

Sementara itu, penggunaan nisan sebagai pemanis memberikan warna coklat alami dan aroma khas yang tidak dapat digantikan oleh gula pasir. Jika menggunakan gula biasa, warna oluo justru cenderung lebih gelap dan rasa tradisionalnya berkurang.

Pada masa lalu, oluo hanya dimasak pada momen tertentu. Masyarakat biasanya membuat oluo saat anggota keluarga hendak merantau sebagai bekal perjalanan karena makanan ini tahan lama dan mengenyangkan. Selain itu, oluo juga menjadi sajian khas menjelang Hari Raya Idulfitri.

Kini, oluo tidak hanya dipandang sebagai makanan tradisional, tetapi juga memiliki potensi sebagai oleh-oleh khas Desa Kuok. Nilai sejarah, cita rasa autentik, dan cerita budaya di balik pembuatannya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun generasi muda.

Pelestarian oluo dan nisan dinilai penting agar tradisi kuliner Melayu Kampar tidak hilang ditelan zaman. Sebab, di setiap rasa manisnya, tersimpan warisan budaya dan kenangan kehidupan masyarakat Desa Kuok tempo dulu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....