Penyebab Kurang Tidur Dapat Memengaruhi Gula Darah

  • 22 Sep 2026 16:18 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Kebiasaan begadang atau memiliki kualitas tidur yang buruk sering kali hanya dikaitkan dengan rasa lelah dan kantuk di pagi hari. Padahal, dampak dari kurang tidur melintasi batas rasa lelah fisik semata.

Gangguan jam istirahat ternyata memiliki keterkaitan erat dengan metabolisme tubuh, khususnya dalam memicu peningkatan kadar gula darah. Saat seseorang kurang tidur, keseimbangan hormon di dalam tubuh akan terganggu secara signifikan.

Tubuh merespons kondisi stres akibat kurang istirahat dengan memproduksi lebih banyak hormon kortisol. Mengutip publikasi ilmiah dari National Institutes of Health (NIH), peningkatan hormon kortisol ini menyebabkan sel-sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin, yaitu hormon yang bertugas memasukkan glukosa dari aliran darah ke dalam sel untuk diubah menjadi energi.

Kondisi menurunnya sensitivitas sel terhadap insulin ini dikenal dengan istilah resistensi insulin. Ketika sel resisten, pankreas terpaksa bekerja ekstra keras memproduksi lebih banyak insulin guna menekan kadar gula. Jika pola kurang tidur ini terjadi terus-menerus, glukosa akan menumpuk di dalam pembuluh darah dan meningkatkan risiko terjadinya kondisi prediabetes hingga diabetes tipe 2.

Dampak buruk kurang tidur terhadap metabolisme glukosa ini juga dikonfirmasi oleh otoritas kesehatan global. Menurut laporan riset dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), orang yang secara konsisten tidur kurang dari 7 jam per malam berisiko mengalami lonjakan kadar gula darah yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki waktu tidur cukup. Hal ini disebabkan oleh terganggunya fase tidur lelap (deep sleep) yang sangat krusial bagi pemulihan sistem metabolisme tubuh.

Tidak hanya secara hormonal, kurang tidur juga memengaruhi pola makan seseorang di siang hari. Penjelasan teknis dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat bahwa ketidakcukupan waktu istirahat memicu ketidakseimbangan hormon ghrelin dan leptin—dua hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Akibatnya, tubuh cenderung mendambakan makanan tinggi karbohidrat olahan dan gula untuk mendapatkan energi cepat, yang pada akhirnya memperparah lonjakan gula darah.

Di dalam negeri, imbauan untuk menjaga pola tidur sebagai bagian dari pencegahan penyakit tidak menular terus digalakkan. Panduan edukasi kesehatan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menegaskan bahwa menjaga durasi tidur ideal selama 7 hingga 8 jam sehari merupakan pilar penting dalam gaya hidup sehat , berdampingan dengan pola makan seimbang dan aktivitas fisik teratur untuk menjaga kestabilan glukosa darah.

Mengingat dampaknya yang nyata bagi kesehatan jangka panjang, memperbaiki kualitas dan durasi tidur harian tidak boleh lagi diabaikan. Memprioritaskan waktu istirahat yang cukup bukan sekadar menghilangkan rasa kantuk, melainkan investasi penting untuk menjaga keseimbangan hormon dan melindungi tubuh dari ancaman gangguan gula darah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....