Merasa Selalu Jadi Bintang, Kenali Star Syndrome
- 19 Sep 2026 23:06 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Pernahkah anda merasa harus selalu diperhatikan, dipuji, atau dianggap paling istimewa? Perasaan ingin mendapat pengakuan sebenarnya bisa dialami siapa saja.
Namun, ketika kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian mulai memengaruhi cara seseorang memperlakukan orang lain, kondisi ini sering disebut star syndrome. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan perilaku ketika seseorang terlalu berpusat pada diri sendiri dan ingin terus mendapatkan pengakuan dari lingkungan. Star syndrome sendiri bukan diagnosis gangguan mental resmi.
| Baca juga: Penyebab Sering Buang Angin |
Dalam kehidupan sehari-hari, perilaku yang dikaitkan dengan star syndrome dapat terlihat dari kebiasaan ingin selalu dipuji, merasa lebih hebat daripada orang lain, senang menunjukkan pencapaian, atau sulit menerima ketika perhatian berpindah kepada orang lain. Sejumlah psikolog juga menggunakan istilah ini untuk menggambarkan perilaku mencari pengakuan dan status sosial. Karena itu, seseorang yang sesekali ingin dipuji tidak otomatis dapat disebut mengalami star syndrome.
Menurut laman Psykhiatry.org dan Alodokter, yang perlu diperhatikan adalah ketika sikap tersebut berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu hubungan dengan orang lain. Dalam psikologi, pola yang jauh lebih menetap dan menyebabkan masalah dapat berkaitan dengan gangguan kepribadian narsistik atau Narcissistic Personality Disorder (NPD). American Psychiatric Association menjelaskan NPD sebagai pola menetap berupa rasa diri yang sangat penting, kebutuhan berlebihan akan kekaguman, serta kurangnya empati terhadap orang lain.
| Baca juga: Penyebab Merinding saat Udara Dingin |
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain merasa dirinya lebih istimewa daripada orang lain, membesar-besarkan kemampuan atau pencapaian, mengharapkan perlakuan khusus, membutuhkan pujian berlebihan, serta sulit memahami kebutuhan dan perasaan orang lain. Orang dengan pola narsistik juga dapat merasa sangat tersinggung atau marah ketika mendapatkan kritik atau tidak memperoleh perhatian yang diharapkan.
Meski begitu, penting untuk tidak terburu-buru memberikan label kepada seseorang hanya karena ia percaya diri, senang tampil, aktif di media sosial, atau bangga terhadap pencapaiannya. Percaya diri dan narsisme bukan hal yang sama. Diagnosis gangguan kepribadian dilakukan oleh tenaga profesional melalui penilaian menyeluruh terhadap pola perilaku, gejala, serta dampaknya terhadap kehidupan seseorang.
Lalu, bagaimana agar tidak terjebak dalam perilaku yang terlalu berpusat pada diri sendiri? Salah satu langkah sederhana adalah belajar menerima kritik, memberi ruang kepada orang lain untuk berbicara, menghargai keberhasilan orang lain, dan membiasakan diri melihat sebuah persoalan dari sudut pandang orang lain. Jika perilaku tersebut sudah menimbulkan masalah serius dalam hubungan, pekerjaan, atau kehidupan sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental dapat menjadi pilihan yang tepat.
Pada akhirnya, menjadi pusat perhatian bukanlah ukuran nilai seseorang. Pengakuan dari orang lain memang menyenangkan, tetapi hubungan yang sehat juga membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan, menghargai, dan memberi ruang kepada orang lain. Tidak harus selalu menjadi bintang untuk tetap berarti
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....