Batasi Makan Ultra Proses

  • 09 Sep 2026 19:50 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Di tengah kesibukan sehari-hari, makanan ultra-proses sering menjadi pilihan yang paling mudah. Tinggal membuka kemasan, menyeduh, atau memanaskannya, makanan sudah siap disantap.

Contohnya antara lain mi instan, minuman manis kemasan, camilan kemasan, nugget, dan berbagai makanan beku bermerek. Kementerian Kesehatan RI memasukkan produk-produk tersebut sebagai kelompok pangan ultra-proses yang perlu diperhatikan dalam pola makan sehari-hari.

Masalahnya bukan berarti semua makanan yang mengalami proses pengolahan harus dijauhi. Yang perlu dibatasi adalah makanan ultra-proses yang dikonsumsi terlalu sering, terutama jika tinggi gula, garam, lemak tidak sehat, dan rendah zat gizi penting. WHO menjelaskan bahwa pola makan sehat sebaiknya lebih banyak bertumpu pada makanan yang minim proses seperti sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, serta sumber protein yang baik.

Kebiasaan mengonsumsi makanan ultra-proses juga mudah terbentuk tanpa disadari. Rasanya yang kuat, praktis, dan mudah ditemukan membuat tangan sering kembali mengambilnya. Karena itu, perubahan tidak harus dilakukan secara drastis.

Mulailah dengan mengganti satu pilihan setiap hari. Misalnya, minuman manis kemasan diganti air putih, camilan kemasan diganti buah, sedangkan mi instan sesekali dapat diganti dengan makanan rumahan yang memiliki sayur dan sumber protein.

Ada cara sederhana untuk mengetahui apa yang sebenarnya kita makan: baca labelnya. Perhatikan kandungan gula, garam atau natrium, lemak, serta daftar bahan pada kemasan. Kementerian Kesehatan RI juga mendorong masyarakat menerapkan pola makan yang lebih sehat dan seimbang, bahkan, pemerintah telah menetapkan kebijakan terkait pencantuman label gizi dan pesan kesehatan pada pangan olahan siap saji sebagai bagian dari upaya mendukung masyarakat membuat pilihan pangan yang lebih baik.

Pada akhirnya, membatasi makanan ultra-proses bukan berarti kita tidak boleh menikmatinya sama sekali. Kuncinya adalah frekuensi, jumlah, dan keseimbangan. Semakin sering makanan ultra-proses memenuhi piring, semakin sedikit ruang untuk makanan segar dan bergizi.

Jadi, sebelum membuka kemasan makanan berikutnya, coba berhenti sejenak dan bertanya: apakah tubuh kita benar-benar membutuhkan makanan itu, atau hanya karena makanan tersebut begitu mudah dijangkau? Bisa jadi, satu keputusan kecil di meja makan hari ini menjadi awal perubahan besar bagi kesehatan di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....