Jamais Vu, Fenomena Aneh ketika Otak ‘Melupakan’ Sesuatu yang Familiar

  • 23 Agt 2026 15:01 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Pernahkah kamu melihat sebuah kata yang sebenarnya sudah sangat familiar, tetapi tiba-tiba kata tersebut terlihat aneh dan terasa seperti baru pertama kali melihatnya? Atau pernahkah kamu berada di tempat yang sudah sangat dikenal, tetapi untuk sesaat tempat itu justru terasa asing?

Pengalaman seperti ini mungkin terdengar aneh, tetapi dalam psikologi dikenal dengan istilah jamais vu. Istilah dari bahasa Prancis ini secara sederhana merujuk pada pengalaman ketika sesuatu yang sebenarnya familiar terasa tidak familiar atau asing. Fenomena ini sering dianggap sebagai kebalikan dari déjà vu.

Jamais vu menarik karena pengalaman tersebut menunjukkan mengenali sesuatu tidak hanya bergantung pada ingatan, tetapi juga pada perasaan subjektif bahwa sesuatu terasa familiar. Dalam keadaan normal, ketika melihat kata, wajah, tempat, atau melakukan aktivitas yang sudah sering dilakukan, otak dapat menghubungkannya dengan pengalaman sebelumnya sehingga muncul rasa familiar. Namun, pada jamais vu, seseorang tetap mengetahui bahwa sesuatu tersebut sebenarnya sudah dikenal, tetapi perasaan familiar itu seolah-olah menghilang untuk sementara.

Salah satu contoh sederhana dapat terjadi ketika seseorang menulis atau membaca kata yang sangat umum secara berulang-ulang. Misalnya, kata “rumah” ditulis puluhan kali. Pada awalnya kata tersebut terlihat normal.

Namun, setelah terus-menerus diperhatikan, bentuk hurufnya dapat mulai terlihat aneh dan maknanya terasa seperti menghilang. Kondisi seperti ini berkaitan dengan fenomena yang disebut semantic satiation, yaitu pengalaman ketika sebuah kata kehilangan sebagian rasa maknanya setelah dilihat atau diulang berkali-kali. Penelitian Moulin dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa pengalaman seperti ini dapat menghasilkan sensasi yang menyerupai jamais vu.

Dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Memory, Chris J. A. Moulin dan rekan-rekannya mencoba mempelajari jamais vu secara eksperimental. Para peserta diminta menyalin kata secara berulang sampai mereka merasa kata tersebut menjadi “aneh” atau sampai mereka memutuskan berhenti.

Hasil penelitian menunjukkan sekitar dua pertiga peserta melaporkan pengalaman aneh dalam sekitar sepertiga percobaan. Rasa aneh tersebut rata-rata muncul setelah sekitar 30 pengulangan atau kurang lebih satu menit. Para peneliti menggunakan pengalaman tersebut sebagai model jamais vu di laboratorium.

Temuan tersebut menunjukkan perhatian yang terlalu lama terhadap sesuatu yang sangat familiar dapat mengubah cara kita mengalaminya. Namun, hal ini bukan berarti otak benar-benar menghapus ingatan terhadap kata tersebut.

Seseorang masih mengetahui kata itu benar dan familiar, tetapi pengalaman subjektif terhadapnya berubah. Karena itu, jamais vu lebih tepat dipahami sebagai perubahan sementara dalam hubungan antara pengenalan, ingatan, perhatian, dan perasaan familiar, bukan sekadar “lupa” biasa.

Menariknya, para peneliti juga menemukan bahwa jamais vu masih belum dipahami sebaik déjà vu. Literatur ilmiah mengenai jamais vu jauh lebih sedikit, dan belum terdapat satu teori yang diterima secara luas untuk menjelaskan seluruh bentuk pengalaman tersebut.

Penelitian Moulin dan koleganya menunjukkan adanya hubungan antara pengalaman jamais vu dalam kehidupan sehari-hari dan déjà vu, tetapi pola hubungan keduanya tidak sepenuhnya sama. Hal ini menunjukkan bahwa kedua fenomena tersebut mungkin memiliki mekanisme yang berkaitan, tetapi tidak identik.

Jamais vu juga dapat muncul dalam berbagai bentuk pengalaman. Selain kata-kata, seseorang secara singkat dapat merasa bahwa wajah yang sebenarnya dikenal terlihat berbeda, lingkungan yang familiar terasa asing, atau aktivitas yang biasanya dilakukan dengan lancar tiba-tiba terasa tidak biasa.

Penelitian mengenai fenomena ini menunjukkan bahwa pengalaman tersebut berkaitan dengan bagaimana otak mempertahankan rasa familiar terhadap sesuatu. Dengan kata lain, sesuatu dapat tetap dikenali secara intelektual, tetapi pada saat yang sama kehilangan sensasi “ini adalah sesuatu yang saya kenal.”

Fenomena ini juga mengingatkan kita bahwa ingatan manusia bukanlah rekaman sempurna seperti video. Otak terus-menerus memproses informasi, membandingkan pengalaman baru dengan informasi yang tersimpan, dan menghasilkan perasaan tertentu mengenai apa yang kita kenali.

Penelitian tentang déjà vu, misalnya, menunjukkan pengalaman familiar dapat melibatkan ketidaksesuaian antara sinyal ingatan dan proses pemantauan ingatan. Temuan tersebut membantu para peneliti memahami pengalaman subjektif terhadap ingatan dapat berbeda dari kemampuan seseorang untuk benar-benar mengingat informasi tertentu.

Meski terdengar menyeramkan, pengalaman singkat seperti jamais vu tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan serius. Fenomena ini masih menjadi objek penelitian dan mekanisme lengkapnya belum diketahui.

Namun, pengalaman perubahan kesadaran atau pengenalan yang sangat sering, berlangsung lama, atau disertai gejala neurologis lain merupakan hal yang berbeda dan sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai jamais vu biasa. Penelitian neurologis menunjukkan bahwa beberapa fenomena déjà vu dapat muncul dalam konteks kondisi tertentu seperti epilepsi, sehingga konteks dan gejala yang menyertainya tetap penting untuk diperhatikan.

Pada akhirnya, jamais vu memberikan gambaran menarik tentang betapa kompleksnya cara kerja otak manusia. Sesuatu yang sudah kita kenal dapat terasa asing hanya karena cara otak memproses perhatian, makna, dan rasa familiar berubah untuk sementara.

Meskipun penelitian mengenai jamais vu masih terbatas dibandingkan déjà vu, eksperimen telah menunjukkan pengalaman tersebut dapat dipelajari secara ilmiah. Fenomena sederhana seperti melihat sebuah kata yang tiba-tiba terasa aneh ternyata dapat membuka pertanyaan yang lebih besar tentang bagaimana manusia mengenali, mengingat, dan memahami dunia di sekitarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....