Sembilan Tanda Kamu Mengalami ‘Brain Rot’ akibat Terlalu Lama Scroll HP
- 22 Jun 2026 15:34 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Istilah “brain rot” belakangan ramai digunakan di media sosial untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa sulit fokus, mudah terdistraksi, dan mengalami kejenuhan mental akibat terlalu lama terpapar konten digital. Meski bukan istilah medis resmi, fenomena ini dianggap sebagai gambaran dari dampak penggunaan gawai dan media sosial yang berlebihan dalam kehidupan sehari-hari.
Di era serba digital, banyak orang tidak menyadari bahwa kebiasaan scrolling tanpa henti dapat memengaruhi cara kerja otak dalam memproses informasi, mengatur fokus, hingga mengelola emosi. Kondisi ini tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi perlahan melalui kebiasaan yang terus berulang.
Salah satu tanda yang paling umum adalah menurunnya kemampuan fokus. Seseorang menjadi sulit berkonsentrasi dalam waktu lama, bahkan untuk aktivitas sederhana seperti membaca, belajar, atau menyelesaikan pekerjaan. Otak terbiasa dengan informasi cepat dan singkat sehingga aktivitas yang membutuhkan perhatian mendalam terasa membosankan.
Tanda kedua adalah dorongan untuk terus membuka ponsel tanpa alasan yang jelas. Bahkan ketika tidak ada notifikasi atau kebutuhan tertentu, tangan terasa otomatis ingin scrolling media sosial.
Tanda ketiga adalah munculnya rasa gelisah ketika tidak memegang ponsel. Ada dorongan untuk selalu terhubung dengan dunia digital, dan muncul rasa “ada yang kurang” ketika jauh dari layar.
Keempat, daya ingat jangka pendek mulai menurun. Informasi yang baru saja dilihat di media sosial mudah terlupakan karena tidak diproses secara mendalam oleh otak.
Kelima, meningkatnya rasa bosan terhadap aktivitas yang tidak memberikan stimulasi cepat. Hal-hal sederhana seperti membaca buku, menonton film panjang, atau melakukan percakapan mendalam terasa kurang menarik dibandingkan konten singkat di media sosial.
Keenam, muncul kebiasaan multitasking berlebihan. Seseorang sering berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain tanpa benar-benar menyelesaikan satu aktivitas dengan fokus penuh.
Ketujuh, waktu terasa cepat berlalu saat menggunakan ponsel. Scroll yang awalnya “sebentar saja” bisa berubah menjadi berjam-jam tanpa disadari.
Kedelapan, muncul kelelahan mental meski tidak melakukan aktivitas berat. Otak terasa penuh, jenuh, dan sulit kembali fokus.
Kesembilan, perubahan suasana hati menjadi lebih sensitif. Paparan konten berlebihan dapat membuat seseorang lebih mudah merasa cemas, bosan, atau kehilangan motivasi.
Istilah “brain rot” sendiri berkaitan dengan istilah yang secara resmi diakui dalam tren bahasa digital. Menurut penjelasan Oxford Word of the Year, istilah “brain rot” atau “kerusakan otak” didefinisikan sebagai dugaan penurunan kondisi mental atau intelektual seseorang, terutama yang dipandang sebagai akibat dari konsumsi berlebihan materi yang dianggap sepele atau tidak menantang, khususnya konten daring. Istilah ini juga digunakan untuk menggambarkan kekhawatiran terhadap dampak konsumsi konten online berkualitas rendah yang berlebihan, terutama di media sosial.
Oxford mencatat bahwa penggunaan istilah ini meningkat signifikan, dengan kenaikan frekuensi sekitar 230 persen antara tahun 2023 hingga 2024, yang mencerminkan meningkatnya perhatian publik terhadap fenomena konsumsi konten digital yang berlebihan.
Meski bukan istilah medis, “brain rot” menjadi gambaran populer tentang bagaimana pola konsumsi media digital dapat memengaruhi cara seseorang memproses informasi, fokus, dan mengatur waktu penggunaan gawai.
Fenomena ini pada dasarnya menjadi pengingat bahwa konsumsi digital yang tidak terkontrol dapat berdampak pada keseharian. Di tengah era serba cepat dan penuh informasi, kemampuan mengatur waktu layar menjadi bagian penting dalam menjaga fokus, produktivitas, dan keseimbangan hidup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....