Penyebab Cuaca Panas Ekstrem Meningkatkan Risiko Heat Stroke

  • 14 Jun 2026 21:14 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Fenomena cuaca panas ekstrem kian sering melanda berbagai wilayah belakangan ini, membawa dampak serius bagi kesehatan masyarakat. Salah satu ancaman paling fatal di tengah lonjakan suhu ini adalah heat stroke atau serangan panas.

Kondisi ini bukan sekadar rasa gerah biasa, melainkan kedaruratan medis ketika tubuh tidak lagi mampu mengontrol suhu internalnya akibat paparan panas yang menyengat. Secara biologis, tubuh manusia memiliki mekanisme alami untuk mendinginkan diri, salah satunya melalui produksi keringat.

Namun, saat cuaca mencapai titik ekstrem, sistem kendali suhu tersebut bisa mengalami kegagalan fungsi. Menurut panduan resmi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam Heat and Health Factsheet, paparan panas ekstrem yang berkepanjangan membuat tubuh gagal mengeliminasi akumulasi panas, sehingga suhu inti tubuh melonjak drastis dalam waktu singkat.

Suhu tubuh yang melonjak hingga mencapai atau melebihi 40 derajat Celsius merupakan kondisi kritis yang sangat berbahaya. Ketika melewati ambang batas tersebut, panas yang berlebihan akan mulai merusak struktur protein dan sel-sel di dalam tubuh. Lembar edukasi dari Unit Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan (UPK Kemenkes) RI menegaskan jika kenaikan suhu tubuh akibat cuaca panas ini tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berujung pada kerusakan organ berat hingga risiko kematian.

Dampak dari heat stroke ini menyerang organ-organ vital tanpa ampun. Otak, jantung, ginjal, dan otot dapat mengalami kerusakan permanen jika suhu inti tubuh tetap tinggi dalam waktu yang lama. Tubuh yang mengalami serangan panas ekstrem akan menunjukkan gejala penurunan kesadaran, kebingungan mental, hingga kejang, yang menandakan bahwa sistem saraf pusat telah terganggu secara serius oleh radiasi panas matahari.

Faktor utama yang mempercepat terjadinya heat stroke di kala cuaca panas adalah dehidrasi berat yang luput dari perhatian. Saat cairan tubuh terkuras habis melalui keringat tanpa adanya penggantian yang cukup, volume darah di dalam tubuh akan menurun secara drastis. Akibatnya, darah menjadi lebih kental dan jantung harus bekerja ekstra keras untuk memompa darah ke seluruh jaringan tubuh yang sedang kepanasan.

Kondisi darah yang mengental dan beban jantung yang meningkat ini menciptakan efek domino yang mematikan pada tubuh. WHO mencatat bahwa ketegangan hebat yang dialami tubuh saat mencoba mendinginkan diri di tengah cuaca ekstrem tidak hanya memicu cedera ginjal akut, tetapi juga meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke, terutama bagi masyarakat yang sudah memiliki riwayat penyakit penyerta atau komorbid.

Guna mengantisipasi ancaman nyata ini, Kemenkes RI secara resmi menganjurkan masyarakat untuk rutin mengonsumsi air mineral minimal 2 liter per hari tanpa harus menunggu rasa haus datang. Selain menjaga hidrasi, masyarakat juga diimbau untuk mengenali tanda awal seperti pusing dan mual, menggunakan pakaian berbahan longgar, serta membatasi aktivitas fisik di luar ruangan pada jam-jam dengan radiasi tertinggi demi keselamatan diri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....