Mengenal Sweet Tooth pada Anak dan Cara Mengontrol Asupan Gula

  • 23 Agt 2026 14:52 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Sweet tooth adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sangat menyukai makanan atau minuman dengan rasa manis. Pada anak-anak, kebiasaan menyukai makanan manis seperti permen, cokelat, kue, es krim, dan minuman manis cukup umum ditemukan.

Namun, kebiasaan mengonsumsi terlalu banyak gula perlu diperhatikan karena pola makan yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dapat terbawa hingga dewasa. World Health Organization (WHO) menekankan bahwa kebiasaan makan yang sehat sejak dini memiliki peran penting bagi kesehatan sepanjang kehidupan.

Anak dapat menyukai rasa manis karena gula memberikan rasa yang menyenangkan dan mudah diterima oleh lidah. Selain itu, makanan manis sering diberikan sebagai hadiah atau dikaitkan dengan kegiatan menyenangkan, misalnya saat ulang tahun atau setelah anak melakukan sesuatu yang baik.

Akibatnya, anak dapat terbiasa menganggap makanan manis sebagai sesuatu yang istimewa. Karena itu, orang tua perlu membantu anak memahami bahwa makanan manis boleh dikonsumsi, tetapi tidak harus menjadi bagian utama dari pola makan sehari-hari.

Masalahnya bukan sekadar anak menyukai rasa manis, tetapi seberapa banyak gula yang dikonsumsi. WHO merekomendasikan agar konsumsi free sugars pada anak dan orang dewasa dibatasi hingga kurang dari 10% dari total energi harian.

WHO juga menyebutkan bahwa pengurangan hingga di bawah 5% dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan. Free sugars mencakup gula yang ditambahkan ke makanan dan minuman, serta gula alami yang terdapat dalam madu, sirup, jus buah, dan konsentrat jus buah.

Terlalu banyak mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan. Salah satu dampak yang paling jelas adalah kerusakan gigi atau dental caries.

WHO menjelaskan konsumsi free sugars yang lebih tinggi berkaitan dengan meningkatnya risiko karies gigi pada anak. Selain itu, minuman berpemanis juga dapat menyumbang energi dalam jumlah cukup besar tanpa memberikan banyak zat gizi, sehingga konsumsi berlebihan dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan yang tidak sehat.

Untuk mengontrol sweet tooth pada anak, orang tua tidak harus melarang seluruh makanan manis. Larangan yang terlalu ketat justru dapat membuat anak semakin tertarik terhadap makanan tersebut. Pendekatan yang lebih baik adalah mengatur frekuensi dan jumlahnya serta menyediakan pilihan makanan yang lebih bergizi.

Buah utuh, misalnya, dapat menjadi pilihan camilan yang baik karena selain memiliki rasa manis alami, buah juga menyediakan serat dan berbagai zat gizi. WHO membedakan gula alami yang terdapat dalam buah utuh dari free sugars yang menjadi fokus pembatasan.

Orang tua juga perlu memperhatikan minuman yang dikonsumsi anak. Minuman bersoda, teh manis, minuman dengan tambahan gula, serta berbagai minuman kemasan dapat menjadi sumber gula yang mudah dikonsumsi dalam jumlah banyak.

WHO menyebutkan peningkatan konsumsi minuman berpemanis pada anak berkaitan dengan kemungkinan yang lebih tinggi mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Karena itu, membiasakan anak minum air putih dan menyediakan makanan yang minim gula tambahan merupakan langkah sederhana untuk membangun pola makan yang lebih sehat.

Membaca label makanan juga dapat membantu orang tua mengontrol asupan gula anak. Gula tambahan dapat ditemukan dalam berbagai produk yang tidak selalu terasa sangat manis, sehingga memperhatikan informasi gizi dan daftar bahan menjadi penting.

Orang tua dapat membandingkan beberapa produk dan memilih makanan yang lebih rendah gula serta memiliki kandungan gizi yang lebih baik. Selain itu, makanan yang minim proses dan terdiri dari berbagai kelompok makanan bergizi sebaiknya menjadi dasar pola makan anak.

Pada akhirnya, memiliki sweet tooth bukan berarti anak harus sepenuhnya menjauhi makanan manis. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan makan yang seimbang dan mengajarkan anak untuk mengonsumsi gula secara bijak.

Orang tua dapat memberikan contoh dengan membatasi makanan dan minuman tinggi gula di rumah, menyediakan pilihan makanan bergizi, serta menjadikan air putih sebagai pilihan minuman utama. Dengan pendekatan yang konsisten dan tidak berlebihan, anak dapat tetap menikmati makanan manis sesekali tanpa mengorbankan kesehatan dan kualitas pola makannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....