Penyebab Bekas Jerawat Bertahan Lebih Lama

  • 19 Jun 2026 05:47 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Jerawat merupakan salah satu masalah kulit yang paling sering dialami oleh remaja maupun orang dewasa. Munculnya jerawat memang dapat mengganggu penampilan dan menurunkan rasa percaya diri.

Namun, bagi banyak orang, masalah sebenarnya justru dimulai ketika jerawat telah sembuh. Alih-alih kembali memiliki kulit yang bersih, wajah sering kali meninggalkan noda hitam, kemerahan, atau bahkan cekungan yang bertahan jauh lebih lama dibandingkan jerawat itu sendiri.

Tidak heran jika banyak orang bertanya-tanya, mengapa jerawat bisa hilang dalam hitungan hari atau minggu, tetapi bekasnya justru membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk memudar?

Jawabannya terletak pada cara kulit bekerja dalam memperbaiki dirinya sendiri. Jerawat dan bekas jerawat sebenarnya merupakan dua kondisi yang berbeda. Jerawat adalah proses peradangan yang terjadi akibat pori-pori tersumbat oleh minyak berlebih, sel kulit mati, dan bakteri.

Ketika penyebab peradangan tersebut berhasil diatasi, jerawat akan mengecil, mengering, lalu menghilang. Sebaliknya, bekas jerawat merupakan hasil dari proses penyembuhan jaringan kulit yang sebelumnya mengalami kerusakan. Karena melibatkan regenerasi sel, pembentukan kolagen, hingga perubahan pigmen kulit, proses ini berlangsung jauh lebih lambat dibandingkan penyembuhan jerawat itu sendiri.

Dikutip dari laman Hellosehat.com, salah satu alasan utama bekas jerawat sulit hilang adalah karena kulit harus memperbaiki jaringan yang telah rusak. Saat jerawat meradang, terutama yang berukuran besar seperti jerawat batu atau jerawat kistik, lapisan kulit tidak hanya mengalami pembengkakan di permukaan, tetapi juga kerusakan hingga ke bagian yang lebih dalam.

Tubuh kemudian mengaktifkan sistem penyembuhan alami dengan mengirim berbagai sel untuk memperbaiki area tersebut. Sayangnya, proses ini tidak selalu berjalan sempurna. Jika kerusakan terlalu dalam atau respons penyembuhan kurang optimal, bekas jerawat akan terbentuk dan membutuhkan waktu lama untuk membaik.

Selain kerusakan jaringan, perubahan warna kulit juga menjadi penyebab bekas jerawat tampak membandel. Setelah peradangan terjadi, kulit sering kali memproduksi melanin atau pigmen warna kulit dalam jumlah yang lebih banyak sebagai respons terhadap cedera. Kondisi ini dikenal sebagai hiperpigmentasi pasca-inflamasi.

Akibatnya, muncul noda berwarna cokelat, kehitaman, atau kemerahan yang tetap terlihat meskipun jerawatnya sudah tidak ada. Pada sebagian orang, terutama yang memiliki warna kulit sawo matang hingga gelap, produksi melanin cenderung lebih aktif sehingga bekas jerawat dapat bertahan lebih lama dibandingkan pemilik kulit terang.

Paparan sinar matahari juga menjadi salah satu faktor yang sering kali memperlambat hilangnya bekas jerawat. Sinar ultraviolet mampu merangsang produksi melanin lebih lanjut sehingga noda bekas jerawat menjadi semakin gelap dan sulit memudar.

Itulah sebabnya dokter kulit hampir selalu menyarankan penggunaan tabir surya setiap hari, bahkan ketika cuaca mendung atau saat lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan. Perlindungan terhadap sinar matahari membantu mencegah bekas jerawat menjadi semakin jelas dan memberi kesempatan bagi kulit untuk memperbaiki dirinya secara optimal.

Bekas jerawat juga berkaitan erat dengan kolagen, yaitu protein yang berperan menjaga struktur dan elastisitas kulit. Ketika peradangan akibat jerawat merusak jaringan hingga lapisan dermis, produksi kolagen dapat terganggu. Jika tubuh menghasilkan kolagen dalam jumlah yang terlalu sedikit, kulit akan membentuk bekas berupa cekungan atau bopeng.

Sebaliknya, jika kolagen diproduksi secara berlebihan, bekas yang muncul dapat menjadi menonjol. Berbeda dengan noda hitam yang dapat memudar seiring waktu, bekas jerawat yang melibatkan perubahan struktur kulit biasanya jauh lebih sulit diatasi dan sering kali memerlukan tindakan medis seperti laser, microneedling, subcision, atau chemical peeling.

Kebiasaan memencet jerawat juga menjadi penyebab utama bekas jerawat lebih sulit hilang. Banyak orang tergoda untuk mengeluarkan isi jerawat agar terlihat lebih cepat sembuh. Padahal, tindakan ini justru dapat memperparah peradangan dan menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih luas.

Selain meningkatkan risiko infeksi, memencet jerawat juga membuat kulit membutuhkan waktu penyembuhan yang lebih lama. Akibatnya, peluang terbentuknya noda hitam maupun bekas cekung menjadi semakin besar. Oleh karena itu, salah satu langkah paling sederhana namun efektif untuk mencegah bekas jerawat adalah menghindari kebiasaan menyentuh atau memencet jerawat.

Kecepatan regenerasi kulit juga berpengaruh terhadap lamanya bekas jerawat menghilang. Kulit manusia secara alami memperbarui lapisan terluarnya setiap beberapa minggu. Pada usia muda, proses ini berlangsung relatif cepat sehingga bekas jerawat cenderung lebih mudah memudar.

Namun, seiring bertambahnya usia, kemampuan regenerasi kulit akan menurun. Pergantian sel menjadi lebih lambat, produksi kolagen berkurang, dan proses penyembuhan membutuhkan waktu lebih panjang. Inilah alasan mengapa bekas jerawat pada orang dewasa sering kali lebih sulit dihilangkan dibandingkan pada remaja.

Faktor gaya hidup juga tidak boleh diabaikan. Kurang tidur, stres berkepanjangan, pola makan yang tidak seimbang, merokok, serta kurangnya asupan nutrisi tertentu dapat memperlambat kemampuan tubuh dalam memperbaiki jaringan kulit.

Kulit membutuhkan vitamin, mineral, protein, dan antioksidan yang cukup agar proses regenerasi berjalan optimal. Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, bekas jerawat pun dapat bertahan lebih lama.

Meskipun bekas jerawat membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk memudar, bukan berarti kondisinya tidak dapat diperbaiki. Perawatan yang tepat dapat membantu mempercepat regenerasi kulit dan menyamarkan bekas secara bertahap. Penggunaan bahan aktif seperti niacinamide, vitamin C, retinoid, azelaic acid, AHA, maupun BHA dapat membantu meningkatkan pergantian sel kulit sekaligus mengurangi hiperpigmentasi.

Namun, penggunaan bahan aktif harus disesuaikan dengan kondisi kulit agar tidak menimbulkan iritasi yang justru memperburuk bekas jerawat. Selain itu, menjaga kelembapan kulit dengan pelembap yang sesuai juga penting karena kulit yang terhidrasi dengan baik memiliki kemampuan regenerasi yang lebih optimal.

Bagi bekas jerawat yang berupa bopeng atau cekungan dalam, perawatan topikal saja sering kali tidak cukup. Pada kondisi ini, prosedur medis seperti microneedling, laser fraksional, subcision, atau chemical peeling dapat menjadi pilihan untuk merangsang pembentukan kolagen baru. Hasil dari prosedur tersebut juga tidak instan dan umumnya memerlukan beberapa sesi agar perbaikan struktur kulit terlihat lebih maksimal.

Pada akhirnya, bekas jerawat memang lebih sulit hilang dibandingkan jerawatnya sendiri karena melibatkan proses penyembuhan yang jauh lebih kompleks. Kulit tidak hanya harus menghilangkan peradangan, tetapi juga memperbaiki jaringan yang rusak, menormalkan produksi pigmen, serta membentuk kembali kolagen agar permukaan kulit kembali rata. Semua proses biologis tersebut membutuhkan waktu, sehingga kesabaran menjadi kunci utama dalam merawat bekas jerawat.

Dengan rutinitas perawatan yang konsisten, penggunaan tabir surya setiap hari, pola hidup sehat, serta pemilihan produk yang sesuai dengan kebutuhan kulit, bekas jerawat umumnya akan memudar secara bertahap. Yang terpenting, jangan mudah tergiur dengan produk yang menjanjikan hasil instan. Perbaikan kulit adalah proses alami yang memerlukan waktu, dan perawatan yang dilakukan secara konsisten akan memberikan hasil yang jauh lebih aman dan bertahan lama.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....