Memilih Menu yang Itu-Itu Saja Bisa Jadi Penyelamat dari Decision Fatigue

  • 24 Mei 2026 21:04 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Banyak orang menghabiskan banyak waktu di depan etalase warung makan atau sibuk menggulir layar aplikasi pesan-antar makanan dan berakhir memesan menu yang sama seperti hari sebelumnya. Sering kali ini dianggap sebagai bentuk kebosanan atau kurangnya variasi dalam hidup.

Namun, kebiasaan berulang ini bisa saja merupakan mekanisme pertahanan diri. Artikel dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menerangkan bahwa kondisi ini erat kaitannya dengan upaya otak manusia untuk menghindari decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Ketika energi mental sudah menipis, memilih menu makanan yang akrab di lidah adalah cara otak untuk beristirahat dari beban pilihan yang rumit.

Berdasarkan wikipedia, istilah decision fatigue ini awalnya dipopulerkan oleh John Tierney, seorang jurnalis Amerika. Kondisi tersebut dapat terjadi saat kemampuan pengambilan keputusan seseorang mulai menurun karena sebelumnya otak sudah terlalu banyak memproses pilihan yang perlu diputuskan.

Setiap harinya otak manusia rata-rata membuat puluhan ribu keputusan, mulai dari hal besar dalam pekerjaan hingga hal kecil seperti memilih pakaian atau rute jalan tercepat. Energi mental ini memiliki batasan yang jika dipaksakan dapat memicu stres kecil (micro-stress).

Sjastad dan Baumeister dalam Journal of Experimental Social Psychology menunjukkan bahwa individu yang mengalami decision fatigue menjadi lebih pasif untuk terlibat dalam perencanaan dan cenderung menghindar. Kathleen Vohs dan Roy Baumeister dalam penelitiannya menemukan bahwa semakin sering seseorang membuat pilihan yang disengaja, semakin rendah kemampuannya untuk tetap fokus, kurangnya kemampuan mentoleransi minuman tidak enak, dan rasa sakit, dibandingkan dengan orang biasa. Dengan menetapkan menu yang sudah familier, tindakan ini menghemat sisa energi mental untuk keperluan lain yang lebih mendesak.

Rutinitas mengonsumsi menu makanan yang familier juga memberikan rasa aman secara emosional (comfort food). Makanan yang sudah sering dimakan bertindak sebagai penanda zona nyaman yang mampu menurunkan tingkat kecemasan setelah seharian menghadapi tekanan kerja. Otak manusia pada dasarnya menyukai prediktabilitas, mengetahui dengan pasti rasa makanan yang akan masuk ke mulut memberikan kepuasan instan yang menenangkan sistem saraf. Sebaliknya, mencoba menu baru di saat kondisi tubuh sedang lelah secara psikologis membawa risiko kekecewaan baru jika ternyata rasanya tidak sesuai ekspektasi, yang justru dapat memperburuk suasana hati.

Menyederhanakan pilihan makanan harian saat melewati hari berpikir yang panjang dan melelahkan menjadi salah satu bentuk mencintai diri sendiri. Ketenangan pikiran didasari oleh kemampuan mengelola energi mental dengan bijak melalui rutinitas sederhana yang konsisten. Memilih menu makan yang sama berulang kali menjadi bukti kepekaan terhadap diri dalam melepaskan beban pikiran yang tidak penting demi menjaga suasana hati.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....