Sebanyak 6,4 Persen Remaja Pekanbaru Carrier Thalasemia
- 06 Feb 2026 16:22 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.Id, Pekanbaru - Upaya deteksi dini penyakit darah pada remaja di Pekanbaru menemukan hasil yang cukup signifikan. Dari 500 pelajar SMA, SMK, dan mahasiswa yang mengikuti pemeriksaan darah sukarela, puluhan di antaranya teridentifikasi sebagai pembawa sifat thalasemia dan penderita kekurangan zat besi.
Kegiatan ini dilaksanakan dalam bakti sosial oleh tim Patologi Klinik RSUD Arifin Achmad bekerja sama dengan Yayasan Thalasemia Indonesia (YTI) Cabang Riau pada Oktober 2025.
Sebanyak 32 orang atau 6,4 persen peserta dinyatakan sebagai carrier thalasemia (minor), sementara 36 orang atau 7,2 persen mengalami defisiensi besi. Pemeriksaan dilakukan terhadap siswa dan mahasiswa dari SMK Abdur Rab, MAN 3 Pekanbaru, SMK Ikasari, SMKN 5 Pekanbaru, SMK IT Ittihad Rumbai, Akademi John Paul, serta Universitas Abdurrab.
Ketua YTI Cabang Riau, Dr. dr. Elmi Ridar Sp.A, menyampaikan temuan itu saat pertemuan silaturahmi anak dan orang tua di Ruang Serbaguna RSUD Arifin Achmad, Kamis 5 Februari 2026, yang juga diisi dengan kegiatan umpan balik dan edukasi.
“Kami menemukan 32 orang atau 6,4 persen carrier thalasemia dan 36 orang atau 7,2 persen defisiensi besi,” ujarnya.
Carrier thalasemia merupakan individu pembawa sifat yang tampak sehat dan dapat hidup normal, namun berpotensi menurunkan gen tersebut kepada keturunannya. Risiko menjadi lebih besar bila dua carrier menikah, karena dapat melahirkan anak dengan thalasemia mayor. Anak dengan thalasemia mayor mengalami gangguan sel darah merah dengan gejala seperti pucat kronis dan gagal tumbuh, serta harus menjalani transfusi darah rutin seumur hidup disertai konsumsi obat setiap hari.
Menurut Elmi, thalasemia dapat dicegah dengan mengetahui status carrier sejak dini.
“Bisa, dengan tidak menikah sesama carrier. Dari mana kita tahu kita carrier atau tidak? Kita tahu jika melakukan pemeriksaan darah screening thalasemia yang cukup dilakukan sekali saja,” katanya.
Ketua Patologi Klinik RSUD Arifin Achmad, DR. dr. Fridayenti Sp.PK(K), menambahkan rumah sakit tersebut memiliki alat dan reagen untuk pemeriksaan, namun masih terkendala pemahaman masyarakat.
“Saat kami sosialisasi ke sekolah, hampir semua guru asing dengan kata thalasemia,” ujarnya.
Direktur RSUD Arifin Achmad, drg. Yusi Prastiningsih, MM, mengatakan kegiatan ini penting agar keluarga tidak perlu mengalami beban berat di masa depan.
“Tidak usah malu dan cemas, karena kita tidak ingin melahirkan anak atau cucu yang hidupnya bermasalah. Menjalani transfusi darah seumur hidup bukan perkara mudah, walaupun biayanya ditanggung BPJS,” katanya. Di RSUD Arifin Achmad saat ini tercatat sekitar 300 penyandang thalasemia, dengan 160 orang menjalani transfusi rutin. “Sangat luar biasa perjuangan anak-anak ini,” tambahnya.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli mendorong agar screening thalasemia masuk dalam program pemerintah dengan target “Zero Thalasemia” di Riau.
“Diharapkan tidak ada lagi anak-anak terlahir sebagai penyandang thalasemia. Screening dapat dilakukan saat cek kesehatan gratis di FKTP dan dilanjutkan di FKTL,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tingginya kasus defisiensi besi pada anak yang berdampak pada kecerdasan dan konsentrasi belajar.
“Anak sekolah tidak boleh anemia. Syukurnya sekarang sudah ada obat cacing reguler dan MBG. Ke depan kita berharap anak-anak Riau makin cerdas dan sehat,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....