Arfa dan Naisya, Perjalanan Siswa SMA 8 Meraih Prestasi

  • 21 Sep 2026 12:00 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Meraih prestasi membutuhkan proses panjang, mulai dari menemukan minat, membangun kemampuan, mengikuti kompetisi, hingga berani menghadapi kegagalan. Hal itu dijalani Arfa Nashrullah dan Naisya Putri Iskandar, dua siswa kelas XI SMA Negeri 8 Pekanbaru yang menekuni bidang berbeda.

Arfa dikenal melalui prestasinya di bidang basket hingga berhasil mengikuti kompetisi internasional di Kuala Lumpur, Malaysia. Sementara Naisya menekuni debat konstitusi dan mulai serius mengembangkan kemampuannya sejak duduk di bangku SMA.

Dalam program ROTASI (Obrolan Seputar Literasi) Pro 2 FM Pekanbaru, Arfa menceritakan ketertarikannya terhadap basket bermula sejak kelas VIII SMP. Sebelumnya, ia sempat mencoba sepak bola dan voli. Minat terhadap basket semakin kuat setelah mendapat ajakan dari sang kakak yang juga bermain basket.

Untuk menghadapi kompetisi internasional di Kuala Lumpur pada April 2026, Arfa bersama tim melakukan persiapan sejak Januari. Intensitas latihan bahkan ditingkatkan menjadi dua kali sehari selama Ramadan. Dalam kompetisi tersebut, timnya menghadapi lawan dari Singapura, Australia, dan Malaysia.

"Karena sebenarnya event-nya selesai Lebaran, tapi kami sudah menyiapkannya dari bulan Januari. Kami latihan sampai bulan puasa, kami latihan dua kali dalam sehari," ujar Arfa.

Sementara itu, perjalanan Naisya di dunia debat berawal dari pencarian minat dan bakat sejak SMP. Sebelumnya, ia lebih banyak berkegiatan di bidang akademik, sedangkan ketika SD ia menekuni seni seperti menari dan bernyanyi. Setelah berdiskusi dengan keluarga, Naisya kemudian mencoba mengembangkan kemampuan public speaking dan debat.

Dalam mempersiapkan debat konstitusi, Naisya berlatih berbicara di depan cermin dengan mengambil sebuah objek atau topik, kemudian menyampaikan pemikirannya sendiri. Ia juga belajar menyusun argumen berdasarkan data dan fakta serta mencari solusi dari mosi yang diberikan.

Naisya mengakui proses tersebut tidak selalu mudah. Saat kelas X, ia harus membagi waktu antara kegiatan lomba, tugas sekolah, dan menentukan jurusan. Untuk mengatasinya, ia membuat daftar pekerjaan berdasarkan tenggat waktu serta berkonsultasi dengan guru BK dan orang tua.

Baik Arfa maupun Naisya juga pernah mengalami kekalahan dan masa sulit. Arfa menjadikan kekalahan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan latihan, sedangkan Naisya memilih bercerita kepada orang terdekat dan mengevaluasi proses belajar yang telah dilakukan.

Keduanya sepakat bahwa prestasi tidak hanya ditentukan oleh bakat. Konsistensi, pengalaman, keberanian mencoba, dukungan orang terdekat, serta kemauan untuk terus mengevaluasi diri menjadi bagian dari perjalanan mereka dalam mengembangkan potensi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....