Sering Bilang Maaf sebelum Mengkritik, tapi Tetap Menyakiti

  • 20 Sep 2026 13:21 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Kalimat “maaf sebelumnya” sering dianggap sebagai tanda kesopanan sebelum seseorang menyela pembicaraan atau menyampaikan kritik. Namun, permintaan maaf tidak selalu membuat sebuah ucapan terasa lebih ringan. Jika kata-kata yang disampaikan tetap merendahkan, menghakimi atau menyerang pribadi, orang yang mendengarnya tetap dapat merasa tersakiti.

Menurut situs American Psychological Association (APA) dan Journal of Personality and Social Psychology / penelitian Abi-Esber dkk, dalam kehidupan sehari-hari, situasi seperti ini cukup mudah ditemui. Seseorang mungkin berkata, “Maaf ya, saya cuma mau kasih masukan,” lalu dilanjutkan dengan kritik yang menyentuh kelemahan pribadi. Ada pula yang mengatakan, “Maaf kalau tersinggung, saya memang orangnya terus terang.” Kalimat tersebut terdengar seperti permintaan maaf, tetapi sekaligus dapat menjadi pembuka untuk menyampaikan sesuatu tanpa cukup mempertimbangkan perasaan lawan bicara.

Padahal, kritik tetap dibutuhkan dalam hubungan sosial maupun pekerjaan. Masukan dapat membantu seseorang melihat kekurangan dan menemukan cara untuk memperbaikinya. Persoalannya bukan semata-mata pada kritik, melainkan bagaimana kritik itu disampaikan. RRI.co.id sebelumnya juga menyoroti bahwa cara penyampaian kritik dapat memengaruhi respons penerimanya, terutama ketika kalimat yang terlalu tajam membuat perhatian bergeser dari masalah kepada upaya membela diri.

Karena itu, sebelum memberikan masukan, ada baiknya seseorang memperhatikan tiga hal sederhana: apakah hal tersebut memang perlu disampaikan, apakah waktunya tepat, dan bagaimana memilih kata yang tidak menyerang pribadi. Fokus pembicaraan sebaiknya diarahkan pada persoalan, bukan memberi label kepada orangnya. Misalnya, daripada mengatakan “Kamu memang selalu lambat,” lebih baik mengatakan, “Bagian ini mungkin bisa kita cari cara supaya pekerjaannya lebih cepat.” Pesannya tetap tersampaikan, tetapi ruang untuk memperbaiki diri menjadi lebih terbuka.

Empati juga menjadi bagian penting dalam komunikasi. Apa yang menurut seseorang merupakan candaan atau kejujuran biasa, belum tentu diterima dengan cara yang sama oleh orang lain. Tercatat setiap orang memiliki cara berbeda dalam menerima pesan sehingga kejelasan, kemampuan mendengarkan, dan empati diperlukan agar perbedaan pandangan tidak mudah berubah menjadi salah paham.

Meminta maaf sebelum berbicara tetap merupakan kebiasaan yang baik, terutama ketika seseorang hendak menyela atau menyampaikan sesuatu yang sensitif. Namun, permintaan maaf sebaiknya bukan sekadar pembuka sebelum melontarkan kalimat yang menyakitkan. Jika cara penyampaiannya ternyata membuat orang lain tidak nyaman, seseorang juga perlu bersedia menerima umpan balik dan memperbaiki cara berkomunikasinya.

Pada akhirnya, komunikasi yang baik bukan tentang siapa yang paling berani mengatakan sesuatu secara terus terang. Yang lebih penting adalah apakah pesan tersebut dapat membantu tanpa membuat orang lain merasa direndahkan. Kejujuran, kritik dan perbedaan pendapat tetap dapat disampaikan, tetapi semuanya membutuhkan empati dan pilihan kata yang tepat.

Sebab, mengatakan “maaf” memang hanya membutuhkan satu kata. Tetapi menjaga agar ucapan setelahnya tidak melukai orang lain membutuhkan kesadaran, empati dan tanggung jawab.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....