Bahaya Cyberbullying pada Anak dan Cara Mencegahnya
- 22 Jul 2026 19:22 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Pesatnya perkembangan teknologi dan akses internet membuat anak-anak kini semakin akrab dengan dunia digital sejak usia dini. Namun, di balik kemudahan belajar dan berinteraksi, ruang siber juga menyimpan ancaman nyata berupa perundungan siber (cyberbullying).
Bentuk kekerasan verbal maupun emosional di media sosial ini kerap tidak terlihat oleh orang tua, padahal dampaknya sangat membahayakan tumbuh kembang anak. Berbeda dengan perundungan fisik, cyberbullying dapat terjadi selama 24 jam tanpa batas ruang dan waktu, sehingga korban sering kali merasa tidak memiliki tempat aman untuk bersembunyi. Menurut data laporan dari UNICEF, perundungan siber yang dialami anak-anak dan remaja berisiko tinggi dapat memicu depresi, penurunan prestasi akademis, kecemasan sosial, hingga munculnya dorongan untuk menyakiti diri sendiri.
| Baca juga: Penyebab Anak Suka Bertanya |
Dampak buruk kekerasan digital ini juga menjadi perhatian serius pemerintah di dalam negeri. Publikasi resmi dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menegaskan bahwa trauma psikologis akibat komentar jahat, penyebaran rumor, atau intimidasi di media sosial dapat bertahan hingga anak dewasa, bahkan berpotensi merusak perkembangan karakter dan rasa percaya diri mereka secara permanen.
Menghadapi ancaman ini, peran aktif orang tua dan pendidik dalam melakukan langkah pencegahan menjadi sangat krusial. Pendekatan pencegahan yang efektif bukan dengan cara melarang anak menggunakan gawai secara total, melainkan melalui pendampingan. Organisasi nirlaba perlindungan anak internasional Cyberbullying Research Center merekomendasikan orang tua untuk membangun komunikasi terbuka, mengajarkan etika berinternet (netiquette), serta menetapkan batasan waktu penggunaan gawai yang sehat di rumah.
| Baca juga: Cara Mengatasi Anak Malas Belajar |
Selain itu, meningkatkan literasi digital anak sejak dini juga menjadi benteng pertahanan utama. Langkah edukasi yang digaungkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) menekankan pentingnya mengajari anak untuk menjaga kerahasiaan data pribadi, tidak merespons provokasi di kolom komentar, serta tidak ragu untuk memanfaatkan fitur blokir atau melaporkan akun-akun yang menyebarkan ujaran kebencian.
Orang tua juga dituntut untuk peka terhadap sekecil apapun perubahan perilaku anak. Jika anak tiba-tiba menjadi murung, cemas setiap kali memeriksa ponsel, atau menarik diri dari pergaulan, orang tua perlu dengan segera mengambil tindakan empati tanpa langsung menghakimi. Mengumpulkan bukti tangkapan layar (screenshot) pesan intimidasi juga penting dilakukan sebagai langkah awal untuk pelaporan medis maupun hukum.
Menciptakan ekosistem digital yang aman bagi anak membutuhkan sinergi yang kuat antara keluarga, sekolah, dan pemerintah. Dengan pengawasan yang penuh kasih sayang serta pemahaman literasi digital yang memadai, anak-anak dapat tetap memanfaatkan teknologi untuk berkembang tanpa harus menjadi korban dari kekejaman dunia maya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....