Mengenali Potensi Diri dalam Perspektif Islam, Bukan Sombong tetapi Bentuk Syukur

  • 25 Agt 2026 14:45 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Mengenali kelebihan dan potensi diri terkadang masih dianggap sebagai bentuk kesombongan. Tidak sedikit orang yang memilih menyembunyikan kemampuannya karena khawatir dinilai sok pintar, sok bisa, atau ingin mendapatkan perhatian. Padahal, menurut Dr. Laili Ramadani dari Dakwah Mandiri Riau dalam Program Religi Night, 14 Agustus 2026, mengenali potensi diri justru penting bagi seorang Muslim.

Dr. Laili Ramadani menjelaskan, Al-Qur'an mengajak manusia untuk memperhatikan dirinya sendiri. Ia merujuk pada Surah Az-Zariyat ayat 21 yang mengingatkan manusia untuk melihat dan memperhatikan apa yang ada dalam dirinya.

“Kalau tuntunan Al-Qur'an, kita disuruh untuk memperhatikan diri kita. Apa yang perlu kita perhatikan dari diri kita? Semuanya. Semua kelebihan yang Allah kasih, semua potensi yang Allah berikan, semua hal-hal yang perlu kita perbaiki,” jelasnya.

Ia melanjutkan, manusia perlu melihat ke dalam dirinya dan mengenali bakat serta kemampuan yang telah diberikan Allah. Dengan begitu, potensi tersebut dapat dikembangkan dan digunakan untuk hal yang bermanfaat.

Persoalannya, lingkungan terkadang membuat seseorang takut menunjukkan kemampuannya. Misalnya, seseorang yang merasa memiliki kemampuan public speaking dan menawarkan diri menjadi pembawa acara justru bisa mendapatkan penilaian negatif dari lingkungan.

“Ketika kita menawarkan diri kita, itu sebenarnya kita kenal diri kita. Punya potensi di situ,” ujar Laili.

Ia mengatakan, masyarakat terkadang terburu-buru menilai seseorang sebagai sombong hanya karena berani menunjukkan kemampuan. Padahal, niat di balik tindakan tersebut belum tentu diketahui oleh orang lain.

Laili menegaskan, batas antara mengenali potensi diri dengan kesombongan sebenarnya terletak pada niat. Jika seseorang menunjukkan kemampuan agar dipuji, dianggap hebat, atau tidak diremehkan, maka sikap tersebut dapat mengarah pada kesombongan.

Sebaliknya, jika seseorang menawarkan kemampuan karena menyadari bahwa potensi tersebut merupakan pemberian Allah dan ingin menggunakannya untuk membantu orang lain, maka sikap tersebut dapat menjadi bentuk syukur.

“Bedanya di niat kita. Apa yang terbesit di hati kita,” tegasnya.

Laili juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah memberikan penilaian negatif kepada orang lain. Seseorang yang berani menawarkan diri belum tentu sedang menyombongkan diri karena orang lain tidak dapat mengetahui isi hati seseorang.

Selain itu, ketika melihat orang lain memiliki kemampuan yang lebih baik, seseorang tidak perlu merasa rendah diri. Kekaguman terhadap kelebihan orang lain dapat menjadi hal positif selama tidak membuat seseorang melupakan potensi yang dimilikinya sendiri.

“Jangan sampai pujian itu, ketakjuban kita ke orang itu, kita memuji seseorang itu membuat kita melupakan nikmat Allah yang juga ada sama kita,” pungkas Laili.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....