Jangan Salah Paham, Ini Fakta di Balik Multitasking
- 27 Jul 2026 00:07 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Di era digital seperti sekarang, kemampuan melakukan banyak hal sekaligus atau yang dikenal dengan istilah multitasking sering dianggap sebagai keterampilan penting. Banyak orang merasa bangga ketika mampu membalas pesan, mendengarkan musik, sambil mengerjakan tugas atau pekerjaan.
Namun, benarkah otak manusia mampu melakukan beberapa aktivitas secara bersamaan dengan efektif? Secara ilmiah, otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk fokus penuh pada banyak tugas kompleks dalam waktu yang sama. Menurut penelitian dari Stanford University, orang yang sering melakukan multitasking justru cenderung mengalami kesulitan dalam menyaring informasi yang relevan dan mengingat detail penting dibandingkan dengan mereka yang fokus pada satu tugas dalam satu waktu.
Ketika kita mencoba mengerjakan beberapa hal sekaligus, otak tidak benar-benar memproses semuanya secara bersamaan. Otak melakukan apa yang disebut sebagai task switching, yaitu berpindah fokus dari satu tugas ke tugas lain dengan sangat cepat. Proses perpindahan ini membutuhkan energi mental tambahan dan dapat menyebabkan penurunan konsentrasi.
Selain itu, multitasking dapat meningkatkan beban pada memori kerja atau working memory. Memori kerja adalah bagian dari otak yang bertugas menyimpan dan mengolah informasi sementara. Ketika terlalu banyak informasi masuk dalam waktu yang bersamaan, kapasitas memori kerja dapat menjadi penuh sehingga kita lebih mudah lupa, bingung, atau melakukan kesalahan.
| Baca juga: Rasa Syukur Bikin Hidup Bahagia |
Dampak lain dari multitasking adalah menurunnya produktivitas. Sebuah studi dari American Psychological Association menyebutkan bahwa perpindahan antar tugas dapat mengurangi efisiensi kerja hingga sekitar 40 persen. Hal ini terjadi karena otak memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri setiap kali berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya.
Tidak hanya produktivitas yang terpengaruh, multitasking juga dapat meningkatkan tingkat stres. Saat otak dipaksa untuk terus-menerus berpindah fokus, tubuh dapat menghasilkan hormon stres seperti kortisol dalam jumlah lebih tinggi. Akibatnya, seseorang dapat merasa lebih cepat lelah, mudah cemas, dan sulit berkonsentrasi dalam jangka panjang.
Meskipun demikian, ada beberapa aktivitas yang dapat dilakukan bersamaan tanpa terlalu membebani otak, misalnya berjalan sambil mendengarkan musik atau menyapu sambil berbicara. Aktivitas semacam ini biasanya melibatkan satu tugas otomatis yang tidak membutuhkan banyak perhatian sadar, sehingga otak masih mampu membaginya dengan tugas lain yang lebih ringan.
Dari penjelasan-penjelasan tersebut, multitasking bukanlah kemampuan ajaib untuk melakukan banyak tugas kompleks secara bersamaan. Yang sebenarnya terjadi adalah otak berpindah fokus dengan cepat dari satu tugas ke tugas lain. Oleh karena itu, untuk mendapatkan hasil kerja yang lebih baik, lebih efektif jika kita menerapkan single-tasking, yaitu fokus menyelesaikan satu tugas sebelum beralih ke tugas berikutnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....