Pengaruh Framing Effect dalam Keputusan Membeli Produk

  • 27 Agt 2026 21:03 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Banyak orang merasa lebih tertarik membeli produk dengan klaim "efektif 97% membunuh kuman" dibandingkan produk serupa yang mencantumkan "hanya tersisa 3% kuman". Secara matematis, keduanya menyatakan fakta yang sama. Fenomena psikologis di balik keputusan tersebut dikenal dengan istilah The Framing Effect (Efek Pembingkaian).

Berdasarkan The Decision Lab, fenomena ini pertama kali diteliti oleh Amos Tversky dan Daniel Kahneman, pada tahun 1981 melalui konsep Prospect Theory. Studi mereka membuktikan bahwa manusia secara alami lebih sensitif terhadap potensi kerugian dibandingkan potensi keuntungan yang setara (loss aversion).

Penyebab utama terjadinya efek bingkai ini erat kaitannya dengan cara kerja otak yang menyukai pintasan berpikir atau heuristik. Otak manusia secara alami merespons emosi yang dipicu oleh kata-kata tertentu sebelum mengolah data logis di baliknya. Kata "keberhasilan" atau "selamat" secara otomatis memicu respon positif, sementara kata "kegagalan" atau "risiko" langsung mengaktifkan alarm kewaspadaan di dalam pikiran.

Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena ini bekerja melalui tiga jenis bentuk utama:

  • Gain vs. Loss Frame (Keuntungan vs. Kerugian): Menekankan apa yang didapat versus apa yang hilang. Contoh: "Obat ini memiliki tingkat kelangsungan hidup 90%" terasa jauh lebih aman daripada "Obat ini memiliki tingkat kematian 10%".
  • Attribute Framing (Pembingkaian Atribut): Mengarahkan fokus pada satu kualitas spesifik dari sebuah produk atau situasi untuk membentuk kesan pertama.
  • Goal Framing (Pembingkaian Tujuan): Mendorong seseorang mengambil tindakan dengan memperlihatkan dampak negatif jika tidak melakukannya ("Jika tidak mendaftar sekarang, kamu akan kehilangan diskon 50%").

Dampak dari framing effect sangat luas dan memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari keputusan finansial, pola konsumsi, hingga pilihan politik. Para pelaku pemasaran dan pembuat kebijakan sering kali memanfaatkan teknik ini untuk mengarahkan perilaku masyarakat tanpa merubah fakta dasar. Tanpa disadari, persepsi seseorang terhadap suatu masalah bisa sepenuhnya dimanipulasi hanya dengan mengganti sudut pandang penyampaian.

Agar tidak mudah dimanipulasi oleh penyajian informasi yang dikemas secara sepihak, beberapa langkah ini bisa diterapkan:

  • Ubah Bingkai Informasi secara Mandiri (Reframe the Option): Setiap kali melihat penawaran atau data, cobalah membaliknya. Jika disajikan secara positif, cari tahu sisi negatifnya, dan sebaliknya.
  • Fokus pada Data Mentah dan Angka Mutlak: Abaikan kata-kata sifat yang provokatif dan bandingkan angka riil secara matematis sebelum mengambil keputusan besar.
  • Beri Waktu Jeda Sebelum Mengambil Keputusan: Pembingkaian informasi sengaja dirancang untuk memicu respons emosional yang cepat. Memberi jeda waktu membantu logika berpikir mengambil alih kontrol dari emosi.

Informasi yang diterima jarang sekali bersifat netral. Cara informasi dikemas hampir selalu dirancang untuk mengarahkan pada suatu pilihan. Dengan menyadari keberadaan Framing Effect, dapat membantu menentukan keputusan yang lebih rasional serta objektif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....