Kolaborasi Indonesia-Malaysia Dorong Pengembangan Baterai EV di ASEAN
- 30 Agt 2026 19:10 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru – Ada bagian dari mobil listrik yang tidak banyak terlihat, tetapi menentukan bagaimana kendaraan itu bergerak setiap hari. Baterai tersimpan di balik bodi kendaraan, menyimpan energi untuk perjalanan sekaligus menjadi salah satu teknologi yang kini terus dikembangkan agar mobil listrik semakin mampu digunakan secara luas.
Perkembangan mobil listrik kemudian membawa perhatian pada teknologi di balik kendaraan tersebut. Bukan hanya soal membuat mobilnya, tetapi juga bagaimana baterai dikembangkan, materialnya diolah, selnya diproduksi, hingga ekosistem industrinya dibangun di kawasan ASEAN.
Dilansir dari Jakarta Globe, Indonesia dan Malaysia kini bekerja sama mengembangkan ekosistem baterai kendaraan listrik melalui proyek Baterai Nusantara. Kolaborasi ini melibatkan National Battery Research Institute (NBRI) dari Indonesia dan NanoMalaysia Berhad (NMB), dengan Indonesia berkontribusi pada pengembangan material baterai, sementara Malaysia memiliki kemampuan pengembangan dan pembuatan sel baterai.
| Baca juga: Dosen IBT Pelita Indonesia Dorong UMKM Nanas |
Baterai Nusantara menggunakan teknologi lithium-ion dengan kimia nickel-manganese-cobalt (NMC) dalam format pouch-cell. Pengembangan tersebut juga memanfaatkan teknologi graphene dan diarahkan untuk mendukung kebutuhan kendaraan listrik di kawasan ASEAN.
CEO NMB Group, Dr. Rezal Khairi Ahmad, mengatakan pembangunan industri baterai tidak dapat dilakukan oleh satu organisasi saja. Menurutnya, keberhasilan pengembangan ekosistem baterai membutuhkan kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga penelitian, manufaktur, investor, badan standardisasi hingga penyedia teknologi.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan baterai kendaraan listrik membutuhkan rantai teknologi yang panjang. Indonesia memiliki sumber daya mineral sekaligus kemampuan dalam pengembangan material, sementara fasilitas dan keahlian pengembangan sel di Malaysia dapat melengkapi proses tersebut.
Bagi Indonesia, tantangan berikutnya adalah memperkuat fasilitas pilot plant agar hasil penelitian material dapat diteruskan menuju pengembangan dan produksi sel baterai. Langkah ini penting agar kemampuan nasional tidak berhenti pada penyediaan bahan baku, tetapi berkembang menuju penguasaan teknologi baterai.
Pengembangan teknologi baterai juga tidak hanya berkaitan dengan mobil listrik. Dilansir dari Media Indonesia, meningkatnya pemanfaatan energi surya dan angin turut membutuhkan sistem penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS), sehingga kemampuan mengembangkan baterai dapat berperan dalam kebutuhan energi yang lebih luas.
Kolaborasi Indonesia dan Malaysia akhirnya menunjukkan bahwa perkembangan kendaraan listrik membutuhkan lebih dari sekadar produksi mobil. Penguasaan teknologi material, sel baterai, manufaktur, dan penyimpanan energi menjadi bagian penting untuk membangun ekosistem kendaraan listrik sekaligus memperkuat posisi ASEAN dalam industri baterai global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....