Sejarah Singkat Iduladha yang Perlu Diketahui

  • 25 Mei 2026 21:20 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Perayaan Hari Raya Iduladha atau yang akrab disebut sebagai Hari Raya Kurban selalu menjadi momen sakral yang dinanti umat Muslim di seluruh dunia setiap tanggal 10 Zulhijah. Lebih dari sekadar ritual keagamaan dan penyembelihan hewan ternak, hari besar ini menyimpan rekam jejak sejarah peradaban manusia yang sangat mendalam.

Di dalamnya, termaktub esensi tentang keteguhan iman, ketaatan tanpa batas, serta nilai kemanusiaan tinggi yang melintasi batas zaman. Titik mula sejarah Idul Adha berakar dari kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, yang hidup ribuan tahun silam di tanah Arab.

Berdasarkan catatan sejarah teologi internasional yang dirilis oleh Harvard Divinity School, peristiwa ini berpusat pada ujian keimanan mahaberat ketika Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu melalui mimpi untuk mengorbankan putra tercintanya, Ismail. Dialog tulus antara ayah dan anak yang sama-sama ikhlas menerima perintah Tuhan tersebut menjadi rujukan tertinggi dalam sejarah agama abrahamik mengenai konsep kepasrahan total kepada Sang Pencipta.

Ketika pisau hendak digoreskan sebagai bukti ketaatan, mukjizat pun terjadi atas kuasa Allah SWT yang kemudian menggantikan posisi Nabi Ismail dengan seekor domba jantan yang besar dari surga. Berdasarkan kajian literatur dari Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), peristiwa historis ini tidak hanya menjadi legitimasi awal syariat ibadah kurban, tetapi juga membawa misi revolusioner yang menghapus tradisi kuno pengorbanan manusia yang marak terjadi pada masa peradaban purba. Peristiwa tersebut menegaskan bahwa nyawa manusia sangat berharga dan tidak boleh ditumpahkan untuk ritual apa pun.

Dimensi historis Idul Adha juga tidak lepas dari rangkaian ibadah haji, khususnya napak tilas perjuangan ibunda Siti Hajar saat mencari air di antara bukit Safa dan Marwah, serta keteguhan keluarga Ibrahim dalam melempar jumrah untuk mengusir godaan setan. Sejarawan dunia dari Oxford Islamic Studies Online mencatat bahwa seluruh elemen dalam Idul Adha dan rangkaian manasik haji merupakan simbolisasi dari transformasi sosial. Ritual ini mengubah tatanan masyarakat egois menjadi masyarakat yang mengedepankan solidaritas, keadilan, dan kesetaraan derajat manusia di hadapan Tuhan.

Sejarah mencatat bahwa pasca-peristiwa besar tersebut, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail diperintahkan untuk membangun kembali Ka'bah di Makkah sebagai pusat peribadatan tauhid. Bangunan suci ini kemudian menjadi magnet peradaban yang menyatukan berbagai suku dan bangsa dari seluruh penjuru dunia tanpa memandang kasta atau status sosial. Monumen fisik ini menjadi bukti sejarah bagaimana kepatuhan satu keluarga mampu melahirkan pusat peradaban baru yang terus hidup dan dikunjungi jutaan manusia hingga hari ini.

Dalam konteks kehidupan modern di tanah air, esensi historis dari pembagian daging kurban ini terus dirawat sebagai pilar ketahanan sosial dan pemenuhan gizi masyarakat. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS RI) senantiasa menekankan bahwa pendistribusian hewan kurban ke daerah-daerah terpencil merupakan jembatan kemanusiaan yang efektif untuk mengikis kesenjangan sosial ekonomi. Melalui sejarah Idul Adha, umat Muslim diajarkan secara nyata bahwa kesalehan spiritual harus selalu berjalan selaras dan berdampak langsung pada kesalehan sosial.

Melalui pemahaman sejarah yang kuat, Idul Adha bukan lagi sekadar rutinitas tahunan menyembelih hewan dan menyantap hidangan daging bersama keluarga. Hari raya ini adalah pengingat abadi bagi setiap generasi mengenai pentingnya menundukkan ego pribadi demi kemaslahatan bersama, merawat kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan, serta memperkokoh tali persaudaraan bangsa. Selamat menyambut Hari Raya Idul Adha, semoga nilai-nilai keikhlasan dan pengorbanan Nabi Ibrahim senantiasa tertanam dalam sanubari kita.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....