Asal-Usul Sistem Nilai A, B, C, D, F dalam Dunia Pendidikan
- 31 Mar 2026 09:37 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru-Sistem penilaian di sekolah merupakan bagian yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Melalui nilai, guru dapat mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam memahami pelajaran yang telah diberikan. Namun, urutan nilai huruf di sekolah biasanya menggunakan A, B, C, D, dan F, bukan A, B, C, D, E seperti urutan alfabet pada umumnya.
Dikutip dari laman duniakampus.id, sistem ini dipakai untuk mengukur pencapaian akademik mahasiswa dalam mata kuliah dan huruf-huruf ini menunjukkan rentang nilai untuk mencerminkan kualitas atau level pemahaman mahasiswa. Sebenarnya, sistem penilaian huruf memiliki sejarah yang cukup panjang. Pada masa lalu, sekolah-sekolah belum menggunakan huruf sebagai penilaian. Sebagian besar lembaga pendidikan memakai angka, persentase, atau deskripsi tertulis, seperti “baik”, “cukup”, dan “kurang”. Seiring berkembangnya sistem pendidikan modern, penilaian huruf mulai diperkenalkan karena dianggap lebih sederhana dan mudah dipahami.Sistem ini diapkai untuk mengukur pencapaian akademik mahasiswa dalam mata
Salah satu lembaga pendidikan pertama yang dikenal menggunakan sistem nilai huruf adalah Mount Holyoke College di Massachusetts, Amerika Serikat, pada tahun 1897. Menariknya, pada masa itu sistem yang digunakan masih berupa A, B, C, D, dan E. Artinya, huruf E sebenarnya pernah menjadi bagian dari sistem penilaian sekolah.
Pada sistem tersebut, pembagiannya adalah sebagai berikut:
A untuk nilai sangat baik
B untuk nilai baik
C untuk nilai cukup
D untuk nilai batas lulus
E untuk nilai gagal
Jadi, pada awalnya huruf E digunakan sebagai tanda kegagalan. Siswa yang memperoleh nilai di bawah batas minimum akan mendapatkan huruf E pada rapor mereka.Namun, seiring berjalannya waktu, banyak sekolah mulai mengganti huruf E dengan huruf F. Alasan utama perubahan ini adalah untuk menghindari kesalahpahaman. Huruf E sering kali dianggap sebagai singkatan dari kata Excellent, yang dalam bahasa Inggris berarti sangat baik atau istimewa. Hal ini tentu bisa menimbulkan kebingungan bagi siswa maupun orang tua.
Sejak saat itu, sistem A, B, C, D, F menjadi semakin populer dan digunakan secara luas, terutama di Amerika Serikat. Sistem ini kemudian memengaruhi banyak negara lain dalam menerapkan metode penilaian serupa. Hingga saat ini, sistem tersebut masih dipakai di berbagai sekolah dan universitas di dunia.
Menariknya, tidak semua negara menggunakan sistem yang sama. Di beberapa negara, termasuk Indonesia, huruf E masih digunakan, terutama di perguruan tinggi. Dalam konteks ini, E biasanya berarti nilai yang sangat rendah atau tidak lulus. Hal ini menunjukkan bahwa sistem penilaian sebenarnya dapat berbeda-beda sesuai kebijakan lembaga pendidikan masing-masing.
Dari sejarah tersebut, dapat disimpulkan bahwa hilangnya huruf E bukan karena kesalahan dalam urutan alfabet, melainkan karena alasan praktis dan kejelasan makna. Huruf F dipilih agar semua orang langsung memahami bahwa nilai tersebut berarti gagal. Dengan demikian, sistem nilai A, B, C, D, F yang kita kenal sekarang merupakan hasil perkembangan sejarah pendidikan yang bertujuan memudahkan komunikasi antara guru, siswa, dan orang tua.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....