Detoks Digital: Menjaga Ketenangan Jiwa di Ramadan
- 20 Feb 2026 17:48 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Bulan Ramadan sejatinya menjadi momen emas bagi umat Muslim untuk memperkuat spiritualitas dan ketenangan batin. Namun, di era gempuran informasi saat ini, gangguan terbesar justru sering datang dari layar ponsel yang kita genggam. Fenomena scrolling tanpa henti atau paparan konten negatif di media sosial berisiko mendistorsi kekhusyukan ibadah dan memicu kelelahan mental yang tidak disadari.
Merujuk pada studi yang dirilis oleh Journal of Religion and Health, praktik membatasi penggunaan gawai selama waktu ibadah terbukti mampu menurunkan tingkat kecemasan secara signifikan. Dengan mengurangi konsumsi konten digital yang tidak produktif, seseorang dapat mengalihkan fokusnya pada aktivitas yang lebih bermakna, seperti tadarus Al-Qur'an atau refleksi diri. Hal ini sejalan dengan upaya "membersihkan" jiwa dari kebisingan duniawi yang kerap memicu perbandingan sosial dan rasa tidak puas.
Langkah konkret detoks digital dapat dimulai dengan mematikan notifikasi non-esensial, terutama menjelang waktu berbuka dan sahur. Mengutip rekomendasi dari Cleveland Clinic, paparan cahaya biru (blue light) dari layar gawai dapat menghambat produksi hormon melatonin yang mengatur siklus tidur. Mengingat pola tidur saat puasa sudah mengalami penyesuaian untuk sahur, menghindari ponsel sebelum tidur sangat krusial agar kualitas istirahat tetap terjaga dan emosi lebih stabil di siang hari.
Selain kesehatan tidur, detoks digital juga berdampak pada kualitas interaksi sosial secara langsung. Berdasarkan riset yang dipublikasikan oleh Oxford Internet Institute, pengurangan durasi media sosial dapat meningkatkan empati dan kualitas komunikasi tatap muka. Momen berbuka puasa bersama keluarga pun akan terasa lebih hangat dan berkualitas jika setiap anggota keluarga sepakat untuk meletakkan ponsel sejenak dan saling berbagi cerita tanpa gangguan dunia maya.
| Baca juga: Lima Bekal Pengetahuan bagi Anak Perempuan |
Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah pengendalian diri terhadap informasi hoaks atau konten yang memicu amarah. Sesuai anjuran literasi digital dari UNESCO, kemampuan untuk menyaring informasi dan memilih konten yang menginspirasi merupakan bagian dari kesehatan mental digital. Memilih untuk "unfollow" atau "mute" akun yang membawa pengaruh negatif selama Ramadhan adalah langkah bijak untuk menjaga hati agar tetap bersih dan terjauh dari perasaan hasad atau dengki.
Pengaturan waktu yang ketat, misalnya hanya menggunakan media sosial selama 30 menit sehari, dapat menjadi latihan disiplin yang luar biasa. Menurut para pakar dalam jurnal Psychology of Popular Media, disiplin dalam penggunaan teknologi membantu seseorang mendapatkan kembali kendali atas waktu dan perhatiannya. Di bulan yang penuh berkah ini, mengalihkan perhatian dari dunia maya ke dunia nyata adalah bentuk puasa yang tidak kalah pentingnya untuk kesehatan psikologis.
Ramadan adalah waktu yang tepat untuk mengatur ulang hubungan kita dengan teknologi. Detoks digital bukan berarti memutus komunikasi sepenuhnya, melainkan menggunakan teknologi secara lebih sadar dan bertujuan. Dengan jiwa yang lebih tenang dan pikiran yang jernih tanpa gangguan digital, ibadah pun dapat dijalankan dengan lebih maksimal hingga hari kemenangan tiba.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....