Healing Jadi Gaya Hidup: Kebutuhan atau Sekadar Tren
- 25 Mei 2026 15:00 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID-Pekanbaru : Di tengah padatnya aktivitas, tekanan pekerjaan, tuntutan akademik, hingga derasnya arus media sosial, istilah healing kini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern, khususnya generasi muda. Kata yang awalnya bermakna proses pemulihan emosional dan mental ini perlahan berubah menjadi istilah populer untuk menggambarkan aktivitas rekreasi, liburan singkat, menikmati kopi di kafe, hingga sekadar menjauh sejenak dari rutinitas.
Fenomena ini semakin ramai di media sosial. Platform seperti TikTok, Instagram, dan X (Twitter) dipenuhi unggahan bertema self healing, mulai dari perjalanan ke alam terbuka, menikmati senja, staycation, hingga konten “kabur dulu aja”. Bagi sebagian orang, healing dianggap sebagai kebutuhan penting untuk menjaga kesehatan mental. Namun, tidak sedikit pula yang menilai bahwa healing kini telah bergeser menjadi sekadar tren sosial dan simbol gaya hidup.
Perkembangan budaya healing tiadak bisa dilepaskan dari perubahan pola hidup masyarakat modern. Tekanan hidup yang semakin tinggi membuat banyak orang merasa mudah lelah secara emosional. Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental merupakan kondisi kesejahteraan yang memungkinkan seseorang mampu mengatasi tekanan hidup, bekerja secara produktif, dan berkontribusi terhadap lingkungannya. Artinya, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.
Psikolog dari American Psychological Association menjelaskan bahwa aktivitas relaksasi dan rekreasi mampu membantu menurunkan tingkat stres serta memperbaiki suasana hati. Healing dalam bentuk sederhana seperti beristirahat cukup, mengurangi penggunaan media sosial, berbicara dengan orang terdekat, berjalan santai, atau menikmati waktu sendiri dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan mental.
Selain itu, healing tidak selalu identik dengan liburan mahal. Banyak orang keliru menganggap healing harus dilakukan dengan bepergian ke tempat wisata populer atau menghabiskan banyak uang. Padahal, esensi healing sebenarnya adalah memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk pulih dari tekanan.
Bagi sebagian orang, membaca buku, mendengarkan musik, beribadah, berkebun, atau menikmati suasana rumah juga dapat menjadi bentuk healing yang efektif. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan setiap individu dalam memulihkan diri bisa berbeda-beda.
Di era modern yang serba cepat, kemampuan mengatur keseimbangan hidup menjadi hal yang penting. Istirahat bukan tanda kemalasan, melainkan bagian dari menjaga kesehatan diri. Namun, masyarakat juga perlu bijak agar tidak terjebak menjadikan healing sebagai simbol gaya hidup semata.
Pada akhirnya, healing bukan tentang mengikuti tren, melainkan memahami kebutuhan diri sendiri. Jika dilakukan dengan tepat, healing dapat menjadi cara efektif menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup di tengah tekanan zaman digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....