Penyebab Crochet Kembali Populer di Kalangan Gen Z
- 19 Jun 2026 08:27 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Seni merajut atau yang populer disebut crochet kini tidak lagi identik dengan aktivitas pengisi waktu luang para lansia. Belakangan ini, tren merajut justru meledak di kalangan Generasi Z (Gen Z).
Mulai dari tas jinjing (tote bag), topi bucket, gantungan kunci lucu, hingga pakaian estetis hasil rajutan tangan kini menjadi pemandangan karib di media sosial maupun ruang publik. Fenomena bangkitnya kerajinan tangan ini menyimpan alasan yang mendalam dari sekadar ikut-ikutan tren mode.
Salah satu pemicu utama di balik demam crochet ini adalah keinginan Gen Z untuk tampil beda dan autentik. Melansir laporan tren dari Craft Yacht Council of America, generasi muda saat ini sangat menghargai konsep slow fashion dan produk ramah lingkungan sebagai bentuk protes terhadap industri pakaian massal (fast fashion) yang merusak bumi. Melalui crochet, mereka bisa menciptakan selembar pakaian atau aksesori yang unik, one-of-a-kind, dan mencerminkan identitas personal mereka secara utuh tanpa ada kembaran di dunia.
Selain alasan mode, merajut ternyata menjadi media pelarian yang ampuh untuk menjaga kesehatan mental di tengah gempuran dunia digital yang serbacepat. Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam British Journal of Occupational Therapy, aktivitas motorik berulang seperti merajut terbukti secara klinis mampu memicu pelepasan hormon dopamin dan serotonin. Proses fokus pada hitungan simpul benang ini menciptakan efek meditasi yang menurunkan tingkat kecemasan (anxiety) serta memberikan rasa tenang yang jarang mereka dapatkan saat berselancar di media sosial.
Daya tarik crochet semakin diperkuat oleh algoritma media sosial seperti TikTok dan Instagram yang dipenuhi oleh video tutorial estetik (Do It Yourself/DIY). Anak-anak muda tidak lagi melihat merajut sebagai hal yang membosankan, melainkan sebuah pencapaian visual yang keren untuk dipamerkan. Proses dari seutas benang gulung menjadi sebuah produk jadi yang fungsional memberikan kepuasan instan (sense of accomplishment) bagi generasi yang tumbuh di era serbainstan ini.
Tren global ini pun beresonansi kuat di dalam negeri. Dalam sebuah kajian sosiologi budaya anak muda dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Gen Z di Indonesia memiliki kecenderungan tinggi untuk mencari hobi yang menggabungkan produktivitas dengan ekspresi diri. Crochet menjadi wadah yang sempurna karena tidak membutuhkan ruang besar atau modal awal yang tinggi, namun menawarkan ruang kreativitas tanpa batas yang sangat dihargai oleh kultur anak muda urban saat ini.
Tidak sekadar menjadi hobi pengusir stres, tren crochet ini juga membuka keran ekonomi kreatif baru bagi Gen Z. Banyak dari mereka yang awalnya hanya merajut untuk konsumsi pribadi, kini sukses membuka bisnis pre-order (PO) skala rumahan lewat platform digital. Produk rajutan tangan terbukti memiliki nilai jual (value) yang tinggi di pasar lokal karena konsumen modern rela membayar lebih untuk sebuah karya yang menghargai proses kreativitas manusia (handmade).
Pada akhirnya, kembalinya popularitas crochet di tangan Gen Z membuktikan bahwa kerajinan tradisional tidak akan lekang oleh waktu jika bertemu dengan kreativitas yang tepat. Di tengah dunia yang bergerak serbadigital dan instan, seutas benang rajut berhasil menjadi jembatan bagi generasi muda untuk memperlambat tempo hidup, menjaga kewarasan mental, sekaligus merajut peluang masa depan yang mandiri
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....