Festival Teroba, Jejak Budaya Kuntu yang Terus Dihidupkan di Kampar Kiri

  • 07 Okt 2026 09:29 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Festival Teroba atau Toeroba merupakan salah satu kegiatan budaya masyarakat di kawasan Kenegerian Kuntu, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Riau. Nama Toeroba juga melekat pada Kuntu Toeroba yang tercatat sebagai wilayah adat di Kecamatan Kampar Kiri. Pemerintah Kabupaten Kampar memasukkan Festival Toeroba sebagai salah satu festival masyarakat yang berkembang di kawasan Kampar Kiri, berdampingan dengan Equator Festival, Subayang Festival, Komoko Festival dan berbagai festival adat lainnya. Keberadaan festival ini tidak dapat dilepaskan dari Kuntu yang memiliki sejarah, rumah-rumah tua, adat istiadat dan kesenian tradisional yang masih hidup di tengah masyarakat.

Dikutip dari DPMPTSP Kabupaten Kampar Bidang Pariwisata, Dalam perkembangannya, Festival Teroba menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali kekayaan budaya masyarakat Kuntu. Kajian pariwisata Kabupaten Kampar mencatat bahwa kelompok sadar wisata Kuntu Alam Toeroba mengembangkan kegiatan budaya di kawasan rumah-rumah tua Koto Tuo Kuntu, sekaligus mengangkat atraksi budaya dan adat masyarakat. Kegiatan tersebut antara lain berkaitan dengan pencak silat, rebana atau dikiu gubano, serta berbagai kegiatan seni dan budaya yang berlangsung di lingkungan masyarakat. Dengan demikian, Festival Teroba lebih tepat dipahami sebagai wadah pergelaran budaya dan aktivitas masyarakat, bukan sebagai satu jenis permainan dengan satu aturan permainan tertentu.

Berbagai kesenian tradisional dapat menjadi bagian dari kehidupan budaya Kuntu Toeroba. Dalam dokumentasi mengenai kesenian Desa Kuntu Toeroba, tercatat beberapa perangkat seni seperti talompong atau bagaghak, oguong atau gong, dikiu gubano, rebana, serta kegiatan barzanji dan marhaban. Alat-alat tersebut secara tradisional digunakan dalam pesta perkawinan maupun acara adat masyarakat. Sementara dalam pertunjukan pencak silat, yang ditampilkan adalah kemampuan gerak bela diri tradisional, bukan permainan yang memiliki perlengkapan khusus seperti permainan anak-anak. Karena itu, apabila festival menghadirkan kesenian tersebut, peralatannya menyesuaikan jenis pertunjukan, seperti talompong, gong, rebana dan perangkat pendukung pertunjukan.

Tradisi dalam Festival Teroba juga berkaitan erat dengan semangat kebersamaan masyarakat. Kegiatan budaya yang pernah dikembangkan di Koto Tuo Kuntu misalnya meliputi pameran benda pusaka, pertunjukan atau pengenalan adat-istiadat, batimang atau malalak, pemutaran film dokumenter sejarah, hingga kuliner tradisional. Pada kegiatan budaya masyarakat Kuntu sebelumnya, rumah-rumah tua menjadi salah satu ruang penting untuk mempertemukan sejarah, seni dan masyarakat. Pola seperti ini menunjukkan bahwa festival tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi cara masyarakat mengenalkan kembali identitas kampung kepada generasi berikutnya.

Saat ini, tantangan pelestarian budaya Kuntu adalah bagaimana membuat tradisi tetap hidup tanpa kehilangan makna aslinya. Pemerintah Kabupaten Kampar telah menempatkan Kecamatan Kampar Kiri sebagai bagian dari kawasan pengembangan pariwisata alam dan budaya. Dalam dokumen pemerintah, kawasan ini mencakup Kuntu Darussalam, Kuntu Alam Toeroba, Festival Toeroba serta berbagai objek dan kegiatan budaya lainnya. Dukungan pemerintah juga terlihat dari kebijakan pengembangan pariwisata dan kebudayaan, sementara masyarakat melalui kelompok sadar wisata dan komunitas lokal ikut menjadi penggerak kegiatan budaya. Artinya, pelestarian tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat sebagai pemilik tradisi.

Generasi muda mempunyai peran penting agar Festival Teroba tidak berhenti sebagai acara seremonial. Mereka dapat terlibat sebagai pelaku seni, pemusik tradisional, dokumentator, pengelola kegiatan, pelaku UMKM, hingga penggerak promosi budaya melalui media digital. Pengalaman kegiatan budaya Kuntu menunjukkan bahwa pemuda dan komunitas lokal pernah terlibat dalam penyelenggaraan pagelaran seni, budaya, sejarah, tradisi dan pameran benda pusaka. Dengan keterlibatan generasi muda, Festival Teroba dapat terus berkembang sebagai ruang untuk mengenal sejarah Kuntu sekaligus memperkuat kebanggaan terhadap budaya Kampar Kiri. Warisan budaya tidak cukup hanya disimpan, tetapi perlu dipelajari, dimainkan, dipertunjukkan dan diceritakan kembali oleh generasi yang hidup pada zamannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....