Pengantin Sahur Tradisi Unik Ramadan dari Pulau Palas Indragiri Hilir

  • 12 Agt 2026 13:41 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Kabupaten Indragiri Hilir memiliki kekayaan tradisi Ramadan yang unik dan sarat nilai kebersamaan. Salah satunya adalah Pengantin Sahur atau yang dalam masyarakat setempat juga dikenal sebagai Bagarakan Pengantin Sahur. Tradisi ini berkembang di Desa Pulau Palas, Kecamatan Tembilahan Hulu, dengan tujuan utama membangunkan masyarakat untuk melaksanakan sahur. Pengantin Sahur kemudian berkembang menjadi hiburan rakyat sekaligus bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Pemerintah Provinsi Riau juga telah menetapkannya sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda.

Dikutip dari Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, Sejarah tradisi ini memiliki sejumlah catatan mengenai masa awal kemunculannya. Penelitian Universitas Riau menyebut Pengantin Sahur lahir pada sekitar 1981, dan berkaitan dengan kreativitas tujuh orang pemuda di kawasan Pelampitan, Desa Pulau Palas. Pada masa itu, Pulau Palas masih relatif sepi, jarak antarpermukiman cukup berjauhan dan hiburan masyarakat masih terbatas. Para pemuda yang memiliki minat seni kemudian mengembangkan kegiatan bagarakan dengan menghadirkan musik dan arak-arakan untuk menghibur warga sekaligus membangunkan mereka untuk sahur. Karena tokoh utama dalam arak-arakan adalah pengantin, kegiatan tersebut kemudian dikenal sebagai Pengantin Sahur atau Pengantin Subuh. Salah satu tokoh yang tercatat dalam penelitian sebagai pelakon pengantin perempuan pertama adalah Syaiful Rahman, seorang pegiat seni di Pulau Palas kala itu.

Pada masa awal, bentuk Pengantin Sahur jauh lebih sederhana dibandingkan sekarang. Dua orang laki-laki berperan sebagai pasangan pengantin, dengan salah satunya dirias dan mengenakan pakaian menyerupai pengantin perempuan. Pengantin kemudian duduk di atas gerobak yang dihias menggunakan bahan-bahan sederhana, antara lain pelepah atau daun kelapa. Peralatan musik pun memanfaatkan benda-benda yang tersedia di sekitar masyarakat, seperti botol kaca, ember dan bambu. Penerangan masih menggunakan lampu terongkeng, sementara arak-arakan tidak selalu dapat menyusuri seluruh desa karena kondisi jalan, jembatan dan lingkungan pada masa itu. Seiring perkembangan zaman, gerobak berubah menjadi pelaminan berjalan yang dihiasi lampu, bunga, ornamen dan berbagai dekorasi. Musik dan perlengkapan pendukung juga semakin beragam.

Keunikan Pengantin Sahur terletak pada perpaduan fungsi ibadah, hiburan dan kreativitas masyarakat. Pelaksanaannya biasanya dilakukan menjelang waktu sahur. Para peserta dipersiapkan dengan tata rias dan busana pengantin, kemudian duduk bersanding di atas gerobak yang telah dihias seperti pelaminan. Rombongan bergerak mengelilingi kampung sambil membunyikan alat musik atau perlengkapan bunyi dan mengajak masyarakat bangun untuk makan sahur. Dalam perkembangannya, kegiatan ini juga dikemas menjadi festival dengan penilaian terhadap keserasian pasangan, tata rias, busana serta kreativitas singgasana atau gerobak pengantin. Pada 2024, misalnya, Festival Pengantin Sahur di Pulau Palas melibatkan sejumlah pasangan yang mewakili lingkungan masyarakat setempat.

Dari masa ke masa, Pengantin Sahur mengalami perubahan tanpa kehilangan tujuan utamanya. Jika dahulu lebih merupakan kegiatan spontan para pemuda dengan perlengkapan sederhana, kini tradisi tersebut dapat dikemas sebagai festival budaya dan daya tarik wisata. Perubahan itu menunjukkan adanya kreativitas generasi muda dalam menjaga tradisi agar tetap menarik bagi masyarakat. Namun, pelestariannya juga menghadapi tantangan, antara lain kebutuhan biaya, perubahan gaya hidup, regenerasi pelaku, serta menjaga agar unsur hiburan tidak menghilangkan nilai budaya dan nuansa Ramadan. Karena itu, Pengantin Sahur tidak hanya perlu dipandang sebagai tontonan, tetapi sebagai warisan pengetahuan dan praktik sosial yang mempertemukan pemuda, keluarga dan masyarakat dalam semangat gotong royong. Tradisi yang bermula dari kreativitas sederhana tersebut kini menjadi salah satu kekhasan budaya Pulau Palas dan Indragiri Hilir yang patut terus dikenalkan kepada generasi berikutnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....