Setatak, Permainan Tradisional Inhil yang Menjaga Warisan Permainan Anak
- 17 Sep 2026 12:47 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Permainan tradisional setatak, yang juga dikenal sebagai engklek, merupakan salah satu permainan anak yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau. Dalam dokumen Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir, setatak dicatat dengan nama Engkaan/Setatak dan disebut sebagai permainan anak yang tersebar di setiap kecamatan di Inhil.
Permainan ini dilakukan di bidang datar yang dibuat menjadi beberapa petak untuk dilompati menggunakan satu kaki. Dikutip dari Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir melalui PPID Kabupaten Indragiri Hilir, Mengenai asal-usulnya, sejarah setatak tidak memiliki satu keterangan yang benar-benar pasti. Setatak merupakan nama yang digunakan masyarakat Riau untuk permainan yang di berbagai daerah Indonesia dikenal sebagai engklek, sementara dalam sumber lain juga disebut memiliki nama seperti dore atau sundamanda.
Sejumlah sumber menyebut permainan setatak telah berkembang di Riau sejak sekitar dekade 1930-an dan kemudian semakin dikenal, termasuk melalui lingkungan sekolah. Karena diwariskan secara turun-temurun dan mudah dimainkan, permainan ini dapat berkembang di tengah masyarakat tanpa membutuhkan perlengkapan yang mahal.
Peralatan setatak tergolong sederhana. Pemain membutuhkan lapangan atau bidang datar, garis-garis petak yang dibuat di tanah, serta engkaan atau ucak/gacuk sebagai alat permainan. Dalam pendataan Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir, buah engkaan disebut dapat dibuat dari kayu ataupun mar-mar. Sementara dalam variasi permainan setatak di Riau, gacuk juga dikenal dibuat dari pecahan piring, pecahan tempayan atau batu yang dibuat pipih dan dihaluskan.
Cara bermainnya dimulai dengan menentukan urutan pemain, kemudian gacuk dilempar ke petak tertentu. Pemain melompat dari satu petak ke petak lainnya dengan satu kaki, sementara petak yang terdapat gacuk tidak boleh diinjak. Pemain harus menjaga keseimbangan dan tidak menginjak garis permainan.
Selain menyenangkan, setatak juga menjadi permainan yang melatih keseimbangan tubuh, ketangkasan, konsentrasi, ketepatan melempar dan kemampuan mengikuti aturan. Permainan dilakukan secara bergiliran sehingga anak-anak belajar menunggu, menghargai kesempatan pemain lain dan menerima hasil permainan.
Pada beberapa aturan setatak, pemain yang berhasil menyelesaikan putaran dapat memperoleh hak atas sebuah petak atau “bintang”, yang kemudian menjadi wilayahnya dalam permainan. Nilai-nilai tersebut membuat setatak tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari proses belajar sosial anak melalui permainan tradisional.
Namun, keberadaan setatak di tengah generasi sekarang menghadapi tantangan. Data Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir menunjukkan permainan Engkaan/Setatak tersebar di setiap kecamatan, dengan kondisi yang tercatat sekitar 70 persen terawat, 15 persen kurang terawat dan 15 persen tidak terawat dalam pendataan kondisi kebudayaan daerah. Data tersebut menunjukkan bahwa setatak masih memiliki ruang untuk terus dilestarikan, tetapi keberlangsungannya membutuhkan keterlibatan generasi muda.
Pengenalan melalui sekolah, kegiatan budaya, permainan bersama di lingkungan masyarakat, serta dokumentasi aturan dan cara bermain dapat menjadi bagian dari upaya pelestarian. Dengan demikian, anak-anak masa kini tidak hanya mengenal permainan digital, tetapi juga memiliki kesempatan untuk merasakan langsung permainan sederhana yang telah menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Inhil.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....