Ali Oma, Permainan Tradisional Inhil yang Mulai Terlupakan
- 15 Sep 2026 11:28 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Di tengah semakin populernya permainan digital, permainan tradisional Ali Oma menjadi salah satu warisan permainan anak yang perlu kembali diperkenalkan di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir melalui data Pemajuan Kebudayaan mencatat Ali Oma sebagai permainan rakyat yang tersebar di setiap kecamatan di Inhil. Permainan ini berupa petak umpet yang dilakukan dengan iringan nyanyian “Ali Oma”. Namun, keberadaannya kini mulai berkurang. Data Pemajuan Kebudayaan Kabupaten Indragiri Hilir mencatat sekitar 50 persen masih sering dimainkan, 25 persen kurang dilaksanakan, dan 25 persen sudah tidak dilaksanakan.
Dikutip dari Dinas Pendidikan Kabupaten Indragiri Hilir dokumentasi kegiatan sekolah yang kembali mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak, Secara historis, Ali Oma dikenal dalam khazanah permainan tradisional masyarakat Riau. Sumber sejarah permainan rakyat Riau menyebut permainan ini telah dikenal sejak masa penjajahan dan pada awalnya lebih dikenal sebagai permainan sembunyi-sembunyian. Nama Ali Oma kemudian dikaitkan dengan nyanyian yang digunakan ketika permainan berlangsung. Permainan ini berkembang sebagai permainan anak-anak yang dapat dilakukan secara bersama-sama, baik oleh anak laki-laki maupun perempuan. Dalam perkembangannya, Ali Oma dimainkan pada siang hari, waktu istirahat sekolah, maupun sore hari menjelang waktu Magrib. Meski sumber sejarah tersebut mencatat Pekanbaru sebagai wilayah asal yang dikenal dalam dokumentasi awal, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir kini mencatat Ali Oma sebagai permainan rakyat yang tersebar di seluruh kecamatan Inhil.
Cara bermain Ali Oma cukup sederhana. Permainan biasanya diikuti sekitar 5 hingga 20 anak. Salah seorang pemain ditentukan sebagai “Si Jadi”, sementara pemain lainnya menjadi “Penyuruk” yang bertugas mencari tempat persembunyian. Sebelum permainan dimulai, pemain menentukan siapa yang menjadi penjaga melalui undian, gambreng atau suit. Si Jadi kemudian berdiri di dekat “benteng”, biasanya berupa tembok atau batang pohon, dengan mata tertutup sementara pemain lainnya bersembunyi. Setelah nyanyian Ali Oma selesai atau waktu yang disepakati habis, Si Jadi mulai mencari para Penyuruk. Pemain yang ditemukan harus berusaha menuju benteng, sementara Penyuruk lainnya dapat mencoba menyentuh benteng untuk menyelamatkan teman yang telah tertangkap. Karena itu, Ali Oma tidak membutuhkan peralatan khusus selain benteng berupa pohon atau tembok dan lingkungan yang memungkinkan anak-anak bersembunyi.
Pelestarian Ali Oma membutuhkan keterlibatan pemerintah, sekolah, keluarga, komunitas budaya dan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir telah menunjukkan perhatian terhadap pelestarian permainan tradisional melalui berbagai kegiatan budaya dan olahraga rekreasi. Pemerintah juga memiliki program pengembangan kebudayaan dan pelestarian kesenian tradisional dalam dokumen kinerja perangkat daerah. Di lingkungan pendidikan, Dinas Pendidikan Inhil turut menghidupkan kembali permainan tradisional melalui kegiatan di sekolah, seperti congklak, egrang batok kelapa, ular tangga dan permainan tradisional lainnya. Pola yang sama dapat diterapkan untuk Ali Oma dengan memasukkannya dalam kegiatan sekolah, peringatan hari besar, festival permainan rakyat atau kegiatan budaya di tingkat desa dan kecamatan.
Bagi generasi muda, Ali Oma sebenarnya bukan sekadar permainan mencari dan bersembunyi. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, kerja sama, keberanian, kejujuran dan sportivitas. Anak-anak belajar berkomunikasi, bergerak aktif dan membantu teman ketika bermain. Tantangannya kini adalah bagaimana membuat permainan tersebut kembali menarik di tengah kuatnya pengaruh gawai dan permainan digital. Pemerintah Inhil sendiri dalam kegiatan pelestarian permainan tradisional menekankan pentingnya menghidupkan kembali permainan lama dan menanamkan nilai budaya kepada generasi muda. Karena itu, Ali Oma tidak cukup hanya dicatat dalam dokumen kebudayaan, tetapi perlu dimainkan kembali agar nyanyian, aturan dan nilai yang terkandung di dalamnya tetap hidup di tengah anak-anak Indragiri Hilir.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....