Meriam Bambu Dentuman Tradisi Ramadan dari Kampar

  • 11 Sep 2026 16:13 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru – Dentuman keras meriam bambu pernah menjadi salah satu suara yang dinanti masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Kampar, Riau, terutama ketika bulan Ramadan tiba. Permainan tradisional yang menggunakan bambu berukuran besar ini dahulu dimainkan anak-anak dan remaja sebagai hiburan untuk menyemarakkan suasana Ramadan. Salah satu catatan mengenai tradisi tersebut terdapat di Desa Pangkalanbaru, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar. Pada 2013, masyarakat setempat masih memainkan meriam bambu menjelang Ramadan dengan menggunakan bambu tua dan tebal yang menghasilkan suara dentuman ketika disulut.

Dikutip dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kampar, Secara umum, belum ditemukan sumber sejarah yang memastikan kapan dan siapa pertama kali menciptakan permainan meriam bambu di Kampar. Permainan ini dikenal dengan berbagai nama di sejumlah daerah Nusantara dan telah lama menjadi permainan rakyat yang erat dengan suasana Ramadan. Bahan utamanya berupa batang bambu yang cukup besar dan kuat, sementara pada perkembangannya masyarakat menggunakan minyak tanah maupun karbit sebagai pemicu suara.

Dalam konteks Kampar, meriam bambu lebih tepat dipahami sebagai bagian dari tradisi permainan rakyat yang berkembang secara turun-temurun di tengah masyarakat, bukan sebagai tradisi yang memiliki satu tokoh pencipta yang tercatat secara historis.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat terlebih dahulu menyiapkan bambu yang sudah cukup tua dan berukuran besar. Bambu kemudian dipersiapkan sebagai tabung permainan dengan bagian tertentu diberi lubang untuk proses penyulutan. Peralatan pendukung yang dikenal dalam permainan ini antara lain bambu, bahan bakar seperti minyak tanah atau karbit, kain atau sumbu, serta kayu sebagai alat penyulut. Permainan biasanya melibatkan anak-anak dan remaja yang berkumpul di lingkungan kampung, sementara orang dewasa dapat berperan dalam membantu menyiapkan bambu dan mengawasi kegiatan. Namun, penggunaan api dan bahan yang menghasilkan ledakan memiliki risiko serius, sehingga praktik penyulutan tidak semestinya dilakukan anak-anak. Pemerintah Kabupaten Kampar sendiri pada Ramadan 1447 H/2026 M mengeluarkan imbauan yang melarang membunyikan meriam bambu dan bunyi-bunyian sejenis karena dapat mengganggu ketenangan dan kekhusyukan Ramadan.

Kini, tantangan terbesar pelestarian meriam bambu bukan sekadar mempertahankan dentumannya, tetapi bagaimana mengenalkan nilai sejarah dan sosial permainan rakyat tersebut kepada generasi muda tanpa mengabaikan faktor keselamatan. Perubahan gaya hidup, perkembangan teknologi dan hiburan digital membuat permainan tradisional semakin jarang menjadi pilihan anak-anak. Pelestarian dapat dilakukan melalui dokumentasi sejarah lisan, pengenalan di sekolah atau kegiatan budaya, pameran, permainan rakyat yang aman, hingga festival budaya yang tidak menggunakan praktik berbahaya.

Langkah seperti ini sejalan dengan upaya pelestarian budaya di Kampar yang melibatkan pemerintah daerah, komunitas adat, pelaku tradisi dan generasi muda. Dalam kegiatan Julang Budaya Kampar 2024, misalnya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kampar bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IV menggelar lomba permainan tradisional untuk memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda.

Dukungan Pemerintah Kabupaten Kampar terhadap pelestarian budaya juga terlihat dari kebijakan dan kegiatan yang melibatkan permainan rakyat, tradisi, lembaga adat serta komunitas budaya. Pada 2025, Pemkab Kampar menyatakan komitmennya untuk bersinergi dalam pelestarian budaya lokal, termasuk permainan rakyat dan olahraga tradisional.

Pemerintah daerah juga mendukung berbagai kegiatan pelatihan dan literasi budaya yang melibatkan generasi muda. Karena itu, meriam bambu dapat ditempatkan sebagai bagian dari dokumentasi sejarah permainan rakyat Kampar, sementara bentuk pelestariannya perlu diarahkan pada edukasi, dokumentasi dan kegiatan budaya yang aman. Dengan demikian, generasi muda tetap dapat mengenal cerita tentang dentuman meriam bambu sebagai bagian dari kenangan Ramadan masyarakat Kampar, tanpa harus menghidupkan kembali praktik yang berpotensi membahayakan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....