Main Canang, Permainan Rakyat Kepri Sarat Nilai Kebersamaan

  • 23 Jul 2026 07:56 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Main Canang merupakan salah satu permainan tradisional yang telah lama hidup di tengah masyarakat Kepulauan Riau. Permainan ini tidak hanya menjadi hiburan bagi anak-anak, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan, sportivitas, dan kedekatan masyarakat pesisir serta pedesaan. Meski telah berusia ratusan tahun, Main Canang masih dikenal di sejumlah wilayah seperti Gunung Kijang, Teluk Bintan, Bintan Timur, Tanjung Uban, Tambelan, hingga Teluk Sebong.

Dikutip dari situs Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IV Kepulauan Riau, pada awal perkembangannya, Main Canang tumbuh di lingkungan masyarakat nelayan dan petani. Hal itu terlihat dari peralatan yang digunakan yang sangat sederhana, yakni memanfaatkan potongan kayu, bambu, dan batu yang mudah ditemukan di sekitar tempat tinggal. Alat utama permainan berupa sepasang kayu canang, terdiri atas induk canang sebagai pemukul dan anak canang sebagai sasaran permainan.

Seiring waktu, permainan ini tidak lagi hanya dimainkan oleh anak-anak desa. Pada masa Kesultanan Riau, Main Canang mulai digemari oleh putra-putra bangsawan, terutama anak-anak para datuk. Permainan yang semula berlangsung di lapangan desa kemudian juga dimainkan di halaman balai kediaman para datuk. Bahkan, anak-anak dari kampung sering diundang untuk bermain bersama sebagai teman bermain putra-putra bangsawan, sehingga tercipta interaksi sosial tanpa memandang latar belakang.

Dalam pelaksanaannya, Main Canang memiliki dua bentuk permainan. Pertama, main beraje, yaitu dimainkan secara perorangan, di mana pemain bergantian melanjutkan permainan setelah peserta sebelumnya dinyatakan selesai. Kedua, berundung, yaitu permainan beregu. Pada sistem ini, setiap anggota tim bermain secara bergantian hingga seluruh anggota menyelesaikan giliran. Tim atau pemain yang lebih dahulu mencapai jumlah nilai yang telah disepakati akan dinyatakan sebagai pemenang.

Selain mengajarkan strategi dan ketangkasan, Main Canang juga dikenal dengan tradisi hukuman yang menghibur. Pemain yang kalah atau disebut lengit biasanya mendapat hukuman ringan berupa menggendong para pemenang secara bergantian mengelilingi arena permainan. Tradisi tersebut menjadi bagian dari kegembiraan bersama sekaligus menanamkan sikap sportif dalam menerima hasil pertandingan. Hingga kini, Main Canang tetap menjadi salah satu warisan budaya tak benda yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat Kepulauan Riau dan layak terus dilestarikan kepada generasi muda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....