Mengenal Ragam Tanjak Melayu, Simbol Martabat dan Identitas Riau

  • 06 Agt 2026 21:37 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Tanjak tidak sekadar menjadi pelengkap busana adat Melayu, di Riau, penutup kepala tradisional ini merupakan simbol kehormatan, kebijaksanaan, dan jati diri masyarakat Melayu yang diwariskan secara turun-temurun. Hingga kini, tanjak masih dikenakan dalam berbagai kegiatan adat, penyambutan tamu kehormatan, upacara resmi, hingga perhelatan budaya sebagai wujud pelestarian identitas Melayu.

Menyadur dari laman Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IV, Keberadaan tanjak di Riau memiliki filosofi yang kuat, setiap lipatan, arah simpul, hingga bentuknya mengandung makna tertentu yang mencerminkan karakter, kedudukan, serta etika pemakainya. Dalam budaya Melayu dikenal ungkapan pakaian menunjukkan budi, sementara tanjak melambangkan marwah atau kehormatan seseorang. Karena itu, pemakaiannya tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan disesuaikan dengan adat, usia, maupun kedudukan dalam masyarakat.

Secara umum, masyarakat Melayu mengenal 21 ragam tanjak yaAng masing-masing memiliki nama dan bentuk berbeda. Beberapa di antaranya ialah Lang Melayang, Lang Menyongsong Angin, Dendam Tak Sudah, Balung Ayam, Cogan Daun Kopi, Pucuk Pisang, Mumbang Belah Dua, Sarang Kerangga, Ayam Patah Kepak, Kacang Dua Helai Daun, Sekelongsang Bunga, Belalai Gajah, Setanjak Balung Raja, Ketam Budu, Solok Timba, Pari Mudek, Buana, serta beberapa ragam lainnya yang berkembang di lingkungan masyarakat Melayu. Penamaan tersebut umumnya terinspirasi dari alam, tumbuhan, hewan, maupun nilai-nilai kehidupan yang dekat dengan masyarakat Melayu.

Di antara berbagai jenis tersebut, Tanjak Ikatan Laksamana menjadi salah satu yang paling populer dan mudah dikenali. Bentuknya menjulang ke atas dengan lipatan yang tegas, melambangkan keberanian, kepemimpinan, serta kewibawaan. Dahulu, tanjak ini identik dikenakan oleh para pemimpin atau tokoh adat. Kini, Ikatan Laksamana banyak digunakan dalam acara kenegaraan, festival budaya, hingga penyambutan tamu sebagai representasi budaya Melayu Riau.

Perkembangan zaman tidak membuat tanjak kehilangan maknanya, justru dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan tanjak semakin luas. Pemerintah daerah, lembaga adat, komunitas budaya, hingga kalangan generasi muda aktif memperkenalkan tanjak melalui festival budaya, lomba mengikat tanjak, peringatan hari besar daerah, hingga promosi pariwisata. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat identitas Melayu di tengah arus globalisasi.

Bagi masyarakat Riau, melestarikan tanjak bukan hanya mempertahankan sebuah busana adat, tetapi juga menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu. Tanjak menjadi pengingat bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan identitas yang terus hidup dan berkembang bersama masyarakat. Dengan semakin banyak generasi muda yang mengenal filosofi di balik setiap lipatan tanjak, warisan budaya Melayu diharapkan tetap lestari dan menjadi kebanggaan Riau di tingkat nasional maupun internasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....