Tradisi Cukur Rambut Bayi Melayu

  • 09 Jul 2026 19:03 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID. Pekanbaru: Tradisi mencukur rambut bayi merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Melayu yang masih dijaga hingga saat ini. Upacara ini biasanya dilakukan beberapa hari setelah kelahiran bayi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt, atas karunia seorang anak.

Tidak hanya menjadi acara keluarga, tradisi ini juga menjadi momen berkumpulnya kerabat dan tetangga untuk mendoakan agar bayi tumbuh sehat, saleh, dan membawa kebahagiaan bagi keluarganya. Disadur dari Kementerian Agama Republik Indonesia – Al-Qur'an dan Hadis, dalam pelaksanaannya, bayi akan digendong secara bergantian oleh anggota keluarga atau tokoh yang dihormati.

Rambut bayi kemudian dipotong sedikit demi sedikit sambil diiringi lantunan doa dan selawat. Di beberapa daerah Melayu, prosesi ini juga disertai dengan tepuk tepung tawar sebagai simbol doa keselamatan, keberkahan, dan harapan akan masa depan yang baik bagi sang anak. Suasana penuh kehangatan membuat tradisi ini memiliki nilai kekeluargaan yang sangat kuat.

Tradisi mencukur rambut bayi tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga mengandung ajaran Islam, Rasulullah SAW menganjurkan mencukur rambut bayi pada hari ketujuh setelah kelahirannya, kemudian rambut tersebut ditimbang dan nilai setara beratnya disedekahkan kepada fakir miskin. Anjuran ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus bentuk kepedulian sosial kepada sesama. Oleh karena itu, masyarakat Melayu memadukan nilai agama dengan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Di tengah perkembangan zaman, prosesi mencukur rambut bayi tetap dipertahankan meskipun pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi keluarga. Ada yang mengadakan acara sederhana bersama keluarga inti, ada pula yang mengundang masyarakat sekitar. Yang terpenting bukanlah kemeriahan acaranya, melainkan doa, rasa syukur, dan nilai kebersamaan yang terkandung di dalamnya.

Melestarikan tradisi mencukur rambut bayi berarti menjaga salah satu identitas budaya Melayu yang sarat makna. Tradisi ini mengajarkan pentingnya rasa syukur, kepedulian, silaturahmi, dan penghormatan terhadap nilai-nilai agama. Dengan terus mengenalkan tradisi ini kepada generasi muda, warisan budaya Melayu akan tetap hidup dan menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang patut dibanggakan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....