Pantun dan Sastra Lisan Melayu Kuansing Warisan Penuh Makna
- 21 Jul 2026 09:56 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Pantun dan sastra lisan Melayu merupakan bagian penting dari identitas budaya masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun sebagai media komunikasi, pendidikan, hiburan, sekaligus penyampai nilai-nilai adat dan kehidupan. Selain pantun, masyarakat Kuantan Singingi juga mengenal tradisi lisan seperti kayat, gurindam, petatah-petitih, dan batombo yang hingga kini masih digunakan dalam berbagai kegiatan adat. Kayat sendiri merupakan bentuk sastra lisan khas Rantau Kuantan yang dituturkan dalam bentuk pantun atau syair oleh seorang pengkayat dan berkembang dalam berbagai perhelatan masyarakat.
Dikutip dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, dalam kehidupan masyarakat Melayu Kuantan Singingi, pantun, gurindam, dan petatah-petitih tidak sekadar menjadi rangkaian kata yang indah, tetapi juga berfungsi sebagai pedoman dalam bertutur kata dan bersikap. Ungkapan-ungkapan tersebut kerap disampaikan dalam musyawarah adat, penyelesaian persoalan masyarakat, penyambutan tamu, hingga prosesi pernikahan. Melalui bahasa yang santun dan penuh makna, para tetua adat menyampaikan nasihat, petuah, serta ajaran moral agar generasi muda memahami pentingnya menghormati adat, menjaga persaudaraan, dan hidup bermasyarakat secara harmonis.
Pada prosesi adat pernikahan Melayu Kuantan Singingi, pantun dan petatah-petitih menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Tradisi batombo, misalnya, digunakan dalam upacara pernikahan sebagai bentuk dialog adat yang berisi pantun, petatah-petitih, serta ungkapan penuh makna antara kedua belah pihak keluarga. Melalui sastra lisan tersebut, proses penyampaian maksud dilakukan dengan santun, menghormati nilai adat, serta mempererat hubungan kekeluargaan. Tradisi ini sekaligus menjadi sarana pendidikan karakter yang mengajarkan sopan santun, kebijaksanaan, dan penghargaan terhadap budaya leluhur.
Di tengah perkembangan zaman, keberadaan pantun dan sastra lisan Melayu menghadapi tantangan karena semakin sedikit generasi muda yang mampu menuturkannya secara baik. Meski demikian, berbagai upaya pelestarian terus dilakukan melalui kegiatan budaya, festival, pembelajaran muatan lokal, penelitian kebahasaan, hingga dokumentasi oleh pemerintah dan lembaga kebudayaan. Tradisi berkayat juga masih ditampilkan dalam berbagai kegiatan budaya seperti Pacu Jalur, kenduri adat, pesta pernikahan, dan penyambutan tamu sebagai bentuk pelestarian warisan budaya takbenda daerah.
Pantun dan sastra lisan Melayu Kuantan Singingi merupakan cerminan kearifan lokal yang mengandung nilai pendidikan, etika, dan identitas budaya masyarakat Melayu. Melestarikan tradisi ini berarti menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan relevan di tengah kehidupan modern. Dengan keterlibatan pemerintah, lembaga adat, dunia pendidikan, serta generasi muda, pantun, gurindam, petatah-petitih, dan tradisi lisan lainnya diharapkan terus menjadi kebanggaan masyarakat Kuantan Singingi sekaligus memperkaya khazanah budaya Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....