Nujuh Bulan Tradisi Doa Keselamatan Ibu Hamil, Tetap Hidup di Kepulauan Meranti

  • 29 Jun 2026 09:34 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Tradisi Nujuh Bulan merupakan salah satu upacara adat masyarakat Melayu yang masih dijumpai di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Upacara ini dilaksanakan ketika usia kehamilan memasuki tujuh bulan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus permohonan agar ibu dan bayi yang dikandung diberi kesehatan, keselamatan, serta kelancaran hingga proses persalinan.

Tradisi ini tumbuh dari perpaduan nilai-nilai budaya Melayu dan ajaran Islam yang telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat pesisir Riau. Pemerintah daerah juga menempatkan tradisi-tradisi Melayu sebagai bagian penting dari identitas budaya Kepulauan Meranti yang perlu terus dijaga.

Dikutip dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IV (Kementerian Kebudayaan) Kepulauan Meranti, rangkaian prosesi Nujuh Bulan biasanya diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, Surah Yasin, doa selamat, dan zikir yang dipimpin oleh tokoh agama atau imam setempat. Setelah itu dilakukan prosesi tepung tawar kepada ibu hamil sebagai simbol doa, perlindungan, dan keberkahan.

Keluarga kemudian menyajikan hidangan tradisional Melayu sebagai bentuk rasa syukur sekaligus mempererat silaturahmi dengan kerabat dan masyarakat sekitar. Meski terdapat sedikit perbedaan tata cara di setiap desa, inti pelaksanaannya tetap berfokus pada doa bersama dan harapan akan keselamatan ibu beserta calon bayi.

Bagi masyarakat Kepulauan Meranti, Nujuh Bulan bukan sekadar seremoni kehamilan, tetapi mengandung makna budaya yang mendalam. Tradisi ini mencerminkan semangat gotong royong, kepedulian keluarga besar, penghormatan terhadap kehidupan baru, serta penguatan nilai religius dalam kehidupan masyarakat Melayu.

Kehadiran sanak saudara dan tetangga dalam prosesi tersebut menjadi simbol kebersamaan yang mempererat hubungan sosial antarwarga. Nilai-nilai inilah yang menjadikan tradisi Nujuh Bulan tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

Saat ini, pelaksanaan Nujuh Bulan masih dapat dijumpai di sejumlah wilayah Kepulauan Meranti, meskipun pelaksanaannya telah menyesuaikan dengan kondisi masyarakat modern. Prosesi yang dahulu berlangsung cukup panjang kini umumnya dibuat lebih sederhana tanpa mengurangi makna spiritual dan adat yang terkandung di dalamnya. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti bersama lembaga adat Melayu terus mendorong pelestarian tradisi melalui kegiatan kebudayaan, dokumentasi warisan budaya, pembinaan sanggar seni, serta penguatan identitas budaya daerah dalam berbagai agenda pariwisata dan pendidikan budaya.

Upaya pelestarian Nujuh Bulan membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari keluarga, tokoh adat, tokoh agama, hingga pemerintah daerah. Pengenalan tradisi kepada generasi muda melalui pendidikan, festival budaya, dan dokumentasi digital menjadi langkah penting agar warisan budaya ini tidak hilang ditelan zaman.

Dengan terus menjaga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, Nujuh Bulan tidak hanya menjadi tradisi adat, tetapi juga menjadi simbol kearifan lokal masyarakat Melayu Kepulauan Meranti yang memperkuat identitas budaya daerah di Provinsi Riau.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....