Porok, Permainan Tradisional dari Tempurung Kelapa yang Terlupakan
- 21 Apr 2026 09:35 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Pernah dengar suara tempurung kelapa saling beradu di halaman rumah atau tepi pantai? Itulah salah satu ciri permainan tradisional Porok, permainan khas masyarakat Melayu pesisir yang dulu begitu akrab, namun kini mulai jarang terlihat, terutama di wilayah perkotaan.
Mengutip dari laman Wikipedia, Porok merupakan permainan rakyat yang berasal dari daerah Selat Panjang, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Bengkalis, serta dikenal juga di beberapa wilayah Kepulauan Riau. Permainan ini biasanya dimainkan oleh masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir, terutama di daerah yang banyak ditumbuhi pohon kelapa.
Sesuai dengan lingkungan asalnya, Porok menggunakan tempurung kelapa sebagai alat utama permainan. Setiap pemain umumnya memiliki tiga hingga empat tempurung yang digunakan untuk bermain.
Permainan ini bisa diikuti oleh tiga hingga delapan orang, baik secara perorangan maupun beregu. Menariknya, Porok dapat dimainkan oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, bahkan bisa dimainkan secara campuran antara laki-laki dan perempuan.
Sebelum permainan dimulai, para pemain akan melakukan undian untuk menentukan giliran. Pemain yang menang undian berhak memulai permainan sebagai penentu. Dalam permainan perorangan, penentuan giliran dilakukan dengan cara melerengkan tempurung ke arah titik pusat, dan yang paling dekat akan mendapat kesempatan pertama.
Sementara itu, dalam permainan beregu, penentuan dilakukan dengan mengadu tempurung. Tempurung yang jatuh terlentang menandakan tim pemenang, sedangkan yang tertelungkup menjadi pihak penjaga.
Permainan Porok memiliki tiga tahapan utama, yaitu melereng, mengareng, dan merasuk. Pada tahap ini, pemain berusaha mengenai tempurung lawan. Jika berhasil, pemain akan menyebut kata “porok” sebagai tanda mendapatkan poin.
Namun, permainan ini tidak hanya soal menyerang. Pihak lawan juga akan berusaha menghalangi agar tempurungnya tidak terkena. Jika pemain gagal, maka giliran akan berpindah, dan permainan terus berlangsung hingga salah satu pihak mengumpulkan nilai terbanyak.
Selain sebagai hiburan, Porok juga mengajarkan strategi, ketelitian, serta kerja sama tim jika dimainkan secara beregu. Suasana permainan yang santai namun penuh tantangan menjadikannya tontonan menarik bagi masyarakat sekitar.
Sayangnya, saat ini permainan Porok lebih banyak ditemukan di daerah terpencil dan mulai jarang dijumpai di wilayah perkotaan. Perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup menjadi salah satu penyebab berkurangnya minat generasi muda terhadap permainan tradisional ini.
Padahal, di balik kesederhanaannya, Porok merupakan bagian dari warisan budaya yang mencerminkan kehidupan masyarakat Melayu pesisir yang dekat dengan alam. Melestarikan permainan seperti Porok bukan hanya tentang menjaga tradisi, tetapi juga tentang merawat identitas budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....