Ligu atau Sengki, Permainan Tradisional dari Indragiri Hilir
- 19 Apr 2026 20:16 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Di tengah gempuran permainan digital, permainan tradisional sudah terlupakan. Salah satunya adalah ligu atau sengki permainan khas masyarakat pesisir yang dahulu populer di wilayah Indragiri Hilir, khususnya di daerah Mandah dan Kateman.
Padahal, di balik kesederhanaannya, permainan ini menyimpan nilai kebersamaan, strategi, hingga ketangkasan yang relevan hingga hari ini. Menyadur laman Budaya Melayu, permainan ligu atau sengki dikenal luas di daerah perkebunan kelapa.
Hal ini tidak terlepas dari bahan utama permainan yang memanfaatkan tempurung kelapa sebagai alat utama. Selain itu, pemain juga menggunakan stik atau bilah kayu sepanjang kurang lebih 40 sentimeter sebagai alat pemukul.
Secara sederhana, permainan ini mirip dengan konsep permainan golf tradisional. Pemain menggunakan stik untuk memukul kepingan tempurung kelapa yang disebut ligu atau sengki agar melayang dan mengenai target milik lawan. Permainan dilakukan secara beregu, dengan jumlah anggota antara dua hingga enam orang dalam satu tim.
Namun, lebih dari sekadar permainan, ligu atau sengki mengajarkan banyak hal. Kita tidak menyadari bahwa permainan sederhana seperti ini justru melatih kerja sama tim dan kejujuran. Dalam setiap tahap permainan, mulai dari pembentukan regu hingga penentuan giliran, semua dilakukan dengan cara yang adil, seperti melambungkan kepingan sengki untuk menentukan kelompok.
Permainan dimulai dengan menentukan regu mana yang lebih dulu “menaik” atau menyerang, dan mana yang “menahan” atau bertahan. Regu yang kalah akan menancapkan sengki mereka di tanah sebagai target. Sementara regu yang menang akan berusaha memukul sengki mereka agar mengenai target tersebut.
Proses memukul pun tidak sembarangan. Pemain harus berada pada posisi tertentu, dengan teknik yang membutuhkan ketepatan dan kekuatan.
Bahkan, dalam setiap pukulan, terdapat aturan yang harus dipatuhi, seperti kewajiban menyebut jumlah lawan sebelum memukul. Jika berhasil mengenai target tertentu, pemain harus melompat sesuai jumlah yang disebutkan, menambah unsur fisik dan tantangan dalam permainan.
Menariknya, kemenangan tidak hanya ditentukan dari keberhasilan memukul, tetapi juga strategi tim dan ketahanan hingga akhir permainan. Hukuman bagi tim yang kalah pun cukup unik, yaitu sengki mereka akan dipukul hingga pecah oleh tim pemenang sebuah simbol kekalahan sekaligus penutup permainan.
Di balik semua itu, ligu atau sengki bukan sekadar hiburan. Ia adalah cerminan kehidupan masyarakat yang sederhana namun penuh makna. Permainan ini mengajarkan sportivitas, kesabaran, serta kemampuan membaca peluang.
Kini, pertanyaannya kembali kepada kita, masihkah permainan seperti ini kita kenalkan kepada generasi muda? Di era modern saat ini, di mana anak-anak lebih akrab dengan gawai, permainan tradisional seperti ligu atau sengki bisa menjadi alternatif yang tidak hanya menyehatkan secara fisik, tetapi juga memperkaya nilai sosial dan budaya. Menghidupkan kembali permainan ini berarti menjaga warisan budaya lokal agar tidak hilang ditelan zaman.
Maka, Hari ini mungkin saat yang tepat untuk mengingat kembali bahwa permainan bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi juga tentang kebersamaan, tawa, dan nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....