Tips Owner YTTA: Rumus Atur Margin UMKM saat Bahan Baku Naik
- 28 Mei 2026 12:31 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu - Di tengah ancaman inflasi dan ketidakpastian pasar, manajemen keuangan yang kokoh menjadi kunci utama bagi para pelaku usaha lokal agar mampu bersaing. Lonjakan harga bahan baku seperti daging, kedelai, hingga kemasan plastik kerap menjadi momok menakutkan yang mengancam keberlangsungan hidup pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia.
Menanggapi fenomena tersebut, Owner Tahu Bakso YTTA (Yang Tahu-Tahu Aja), Hamid Wildan, membagikan strategi finansial dan rumus khusus agar bisnis kecil tetap bisa bertahan dan bernapas panjang di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Sebagai mahasiswa jurusan ekonomi, Hamid menyadari bahwa bisnis sekecil apa pun akan selalu terkena dampak langsung dari kebijakan ekonomi makro maupun situasi geopolitik global. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya akurasi dalam penentuan Harga Pokok Penjualan (HPP) sejak awal produk diluncurkan ke pasar.
"Menentukan harga awal bisnis itu susah-susah gampang. Rumus amannya, kita harus memiliki selisih atau margin keuntungan sekitar 30 persen hingga 50 persen dari modal awal," ungkapnya.
Menurutnya, margin yang cukup lebar tersebut berfungsi sebagai bantalan pengaman atau "bumper" ketika terjadi kecelakaan bisnis, seperti kenaikan harga bahan baku secara mendadak akibat momentum hari raya atau inflasi global. Dengan strategi ini, produsen tidak perlu terburu-buru menaikkan harga jual ke konsumen yang berisiko memicu hilangnya pelanggan setia.
Pada akhirnya, rumus 30 hingga 50 persen ini menjadi bukti nyata bahwa pemahaman mendalam terhadap ekonomi makro sangat krusial bagi lini bisnis sekecil apa pun agar tidak mudah tergulung oleh ketidakpastian pasar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....