Muhammad Ramadan Inovasi Aksara Jepang ke Bahasa Kaili

  • 21 Feb 2026 06:59 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu - Upaya pelestarian bahasa daerah terus dilakukan dengan berbagai cara kreatif. Salah satunya datang dari seorang penulis muda asal Kota Palu, Muhammad Ramadan, yang menggagas sistem penulisan bahasa Kaili dengan mengadaptasi aksara Jepang, yakni Hiragana dan Katakana. Inovasi ini lahir dari kegelisahannya melihat semakin berkurangnya penutur muda bahasa Kaili.

Bahasa Kaili sebagai bahasa daerah mayoritas di Sulawesi Tengah kini menghadapi tantangan serius. Minimnya penggunaan dalam percakapan sehari-hari, khususnya di kalangan generasi muda, membuat bahasa ini dikhawatirkan semakin terpinggirkan. Kondisi tersebut mendorong Ramadan untuk mencari pendekatan baru agar bahasa Kaili kembali diminati.

Menurut Ramadan, bahasa tidak hanya soal lisan, tetapi juga perlu didukung sistem penulisan yang menarik dan mudah dipelajari. Ia kemudian terinspirasi dari sistem aksara Jepang, yakni Hiragana dan Katakana, yang dinilainya sederhana dan berbasis suku kata, sehingga cukup relevan untuk menuliskan bunyi dalam bahasa Kaili.

“Anak muda sekarang cenderung tertarik pada budaya populer Jepang. Saya berpikir, kenapa tidak memanfaatkan ketertarikan itu untuk mengenalkan kembali bahasa Kaili melalui pendekatan yang berbeda,” ujar Ramadan saat dialog di program kataua Ntodea di pro 4.

Ia mengaku mempelajari sistem penulisan Jepang secara otodidak melalui buku dan sumber daring. Dari proses tersebut, ia mencoba menyesuaikan bunyi-bunyi dalam bahasa Kaili ke dalam pola suku kata yang ada pada Hiragana dan Katakana. Beberapa penyesuaian dilakukan agar sesuai dengan fonologi bahasa Kaili.

Ramadan menegaskan, gagasan ini bukan untuk menggantikan identitas budaya lokal dengan budaya asing, melainkan sebagai jembatan kreatif agar generasi muda tertarik mempelajari bahasa daerahnya sendiri. Ia berharap inovasi ini dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan bahan ajar, konten digital, hingga karya sastra berbahasa Kaili dengan pendekatan visual yang lebih modern.

Pengamat bahasa daerah di Sulawesi Tengah menilai langkah tersebut sebagai bentuk inovasi linguistik yang patut diapresiasi. Meski demikian, diperlukan kajian akademik lebih lanjut agar sistem penulisan yang dikembangkan memiliki standar yang jelas dan dapat diterima luas oleh masyarakat.

Dirinya berharap ke depan ada dukungan dari komunitas, akademisi, dan pemerintah daerah untuk bersama-sama menyusun pedoman penulisan yang lebih sistematis. Baginya, pelestarian bahasa Kaili bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi gerakan bersama demi menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah arus globalisasi. (AL)

Rekomendasi Berita