Menjaga Idealisme Pemuda di Tengah Kakunya Birokrasi

  • 10 Jan 2026 15:24 WIB
  •  Palu

KBRN, Palu: Menjadi idealis di tengah sistem yang kaku dan birokrasi yang seringkali dianggap menghambat menjadi tantangan besar bagi generasi muda saat ini. Namun, kehilangan idealisme justru dianggap sebagai kerugian terbesar bagi seorang pemuda dalam upaya melakukan perubahan sosial.

Mengutip pernyataan tokoh bangsa Tan Malaka, Nur Safitri Labani Alumni INSPIRASI 2023 menegaskan bahwa idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda. Oleh karena itu, pemuda diingatkan untuk tidak mudah menyerah meskipun situasi hari ini terasa buntu atau sulit ditembus.

"Jangan sampai kita kehilangan idealisme. Secara psikologis, kepedulian kita terhadap perubahan sistem memang seringkali lebih besar daripada kemampuan kita untuk melakukannya saat ini karena berbagai hambatan. Namun, kuncinya adalah tetap fokus pada apa yang bisa kita kerjakan hari ini," ujar Safitri.

Kekhawatiran terbesar bagi aktivis pemuda adalah ketika mereka justru tergerus dan ikut larut dalam sistem yang salah. Jika pemuda kehilangan jati dirinya, maka masyarakat akan kehilangan figur tempat mereka mengadu dan berkonsultasi.

"Jika anak muda ikut tergerus sistem yang bobrok, siapa lagi yang bisa memperjuangkan suara-suara masyarakat? Kita harus tetap menjadi figur yang bisa dipercaya ketika orang lain meminta saran atau bantuan," tegasnya.

Menghadapi realitas birokrasi yang kaku, Safitri menyarankan agar pemuda tidak kehilangan akal. Diperlukan strategi dan cara-cara baru agar tujuan ideal tetap tercapai tanpa harus mengorbankan prinsip. (IM)

Rekomendasi Berita