Tari Pamonte, Lambang Kegembiraan Petani saat Panen

  • 07 Jun 2024 18:08 WIB
  •  Palu

KBRN, Palu: Tari Pamonte merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di Sulawesi Tengah. Tari ini sering ditampilkan di berbagai acara, seperti penyambutan tamu penting, pertunjukan seni dan festival budaya, dengan menampilkan para penari wanita berkostum layaknya petani.

Menurut sejarahnya, tari Pamonte sudah ada dan dikenal oleh masyarakat Sulawesi Tengah sejak tahun 1957. Tarian ini diciptakan oleh salah satu seniman besar dan merupakan putra asli daerah Sulawesi Tengah, bernama Hasan M. Bahasyua.

Tari Pamonte ini terinspirasi dari aktivitas dan kebiasaan para gadis-gadis Suku Kaili saat menyambut masa panen padi tiba. Karena dulu masyarakat suku Kaili mayoritas berprofesi sebagai petani, maka biasanya mereka menyambut musim panen tersebut dengan gembira dan suka cita.

Dari kebiasaan itulah, Hasan M. Bahasyua mengangkat kehidupan masyarakat Suku Kaili tersebut menjadi sebuah karya seni yang indah dan dinamakan dengan Tari Pamonte. Selain itu tarian ini juga menggambarkan kegembiraan dan ungkapan rasa syukur mereka atas panen yang mereka dapatkan.

Rasa bahagia tersebut dilakukan dengan saling bergotong-royong hingga terlarut dalam semangat kebersamaan yang tinggi dan penuh suka cita. Pertunjukan tari Pamonte ditarikan oleh para penari wanita, dengan jumlah penari biasanya terdiri dari 10 orang penari dan seorang Penghulu yang disebut dengan Tadulako.

Seorang Tadulako dalam tarian ini berperan sebagai pemimpin tari dan memberikan aba-aba kepada para panari lainnya. Dengan mengenakan busana yang khas layaknya para petani, penari menari dengan gerakannya yang khas mengikuti alunan musik pengiring.

Gerakan dalam tarian ini menggambarkan aktivitas para petani saat memanen, seperti menuai padi, menumbuk padi, menapis dan lain-lain. Gambaran aktivitas petani tersebut dikemas dalam suatu gerak tari yang khas dengan menggunakan caping atau Toru.

Dalam perkembangannya, tari Pamonte masih terus dilestarikan dan dikembangkan di daerah Sulawesi Tengah. Berbagai kreasi dan variasi juga sering ditambahkan di setiap penampilannya agar terlihat menarik, namun tidak meninggalkan keasliannya. (WRN)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....