Warga Binaan Produktif, Lapas Perempuan Palu Panen 1 Ton Jagung

  • 30 Sep 2026 14:27 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Sigi - Program pembinaan kemandirian melalui sektor pertanian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas III Palu menunjukkan hasil positif. Sebanyak satu ton jagung berhasil dipanen dari lahan pertanian seluas sekitar 1.200 meter persegi di luar tembok Lapas Perempuan Palu, Rabu 30 September 2026.

Panen tersebut diikuti Kepala Lapas Perempuan Palu Yoesiana bersama jajaran. Sebanyak lima warga binaan turut terlibat langsung dalam proses panen sebagai bagian dari program pembinaan di bidang pertanian dan ketahanan pangan.

Sejak proses penanaman hingga masa panen, warga binaan mendapatkan pendampingan dari petugas Lapas. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan kemandirian untuk memberikan keterampilan praktis yang diharapkan dapat menjadi bekal bagi warga binaan setelah kembali ke masyarakat.

Kepala Lapas Perempuan Palu, Yoesiana mengatakan, capaian panen sekitar satu ton menjadi hasil dari kerja bersama antara petugas dan warga binaan, meski proses budidaya menghadapi tantangan musim kemarau dan keterbatasan sumber air.

“Kami sangat bersyukur karena hari ini dapat melaksanakan panen dan hasilnya mencapai kurang lebih satu ton. Ini merupakan hasil kerja keras bersama, baik petugas maupun warga binaan yang terlibat dalam proses budidaya,” ujarnya.

Menurut Yoesiana, keberhasilan program tersebut tidak hanya diukur dari jumlah hasil panen, tetapi juga dari keterampilan yang diperoleh warga binaan selama mengikuti proses budidaya.

“Yang paling penting dari kegiatan ini bukan hanya hasil panennya, tetapi bagaimana warga binaan mendapatkan pengalaman dan keterampilan yang dapat mereka manfaatkan nantinya. Kami ingin pembinaan yang diberikan di Lapas benar-benar memiliki manfaat dan menjadi bekal bagi mereka untuk kembali ke masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Staf Subseksi Pembinaan Lapas Perempuan Palu, Mesal, mengatakan warga binaan terlibat dalam sejumlah tahapan budidaya, mulai dari perawatan tanaman hingga proses pemanenan.

Menurutnya, tantangan utama selama proses budidaya adalah keterbatasan air akibat musim kemarau. Kondisi tersebut membuat perawatan tanaman harus dilakukan secara lebih intensif.

“Selama proses budidaya, kami terus melakukan pendampingan kepada warga binaan, mulai dari perawatan tanaman, pemantauan kondisi jagung, sampai dengan proses panen. Memang ada beberapa kendala, khususnya terkait ketersediaan air selama musim kemarau, tetapi kami bersyukur hasilnya cukup baik dan hari ini bisa dipanen sekitar satu ton,” ungkapnya.

Ia berharap keterlibatan warga binaan dalam kegiatan pertanian dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kedisiplinan, sekaligus memberikan keterampilan yang dapat dikembangkan setelah mereka kembali ke tengah masyarakat.

Salah seorang warga binaan berinisial HM mengaku senang dapat terlibat langsung dalam proses budidaya hingga panen.

“Kami senang bisa ikut dalam kegiatan ini, mulai dari merawat tanaman sampai panen. Memang selama prosesnya ada kesulitan, terutama karena air terbatas, tetapi kami tetap berusaha merawat tanaman. Rasanya bangga ketika melihat hasilnya bisa dipanen sebanyak ini,” tuturnya.

Jagung yang dipanen merupakan jenis jagung yang diperuntukkan sebagai bahan pakan hewan. Setelah melalui proses penggilingan, hasil produksi tersebut selanjutnya akan dipasarkan di pasar lokal.

Program pertanian tersebut menjadi salah satu bentuk pembinaan kemandirian yang dijalankan Lapas Perempuan Kelas III Palu. Selain memberikan pengalaman dalam mengelola lahan, warga binaan juga diperkenalkan pada proses produksi hingga pemanfaatan hasil pertanian agar memiliki nilai ekonomi.

Melalui kegiatan produktif tersebut, pembinaan di Lapas diarahkan tidak hanya pada aspek keterampilan, tetapi juga pada kesiapan warga binaan untuk kembali menjalani kehidupan secara mandiri di tengah masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....