Kemendukbangga/BKKBN Perkuat Pencegahan Stunting 1.000 Hari Pertama

  • 28 Sep 2026 19:09 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Donggala - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) memperkuat upaya pencegahan stunting melalui intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan. Periode tersebut dinilai menjadi fase penting dalam mencegah terjadinya stunting sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Kemendukbangga/BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka dalam rangkaian kunjungan kerjanya di Pelabuhan Wani, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Senin, 28 September 2026. Ia menyebut upaya pencegahan stunting dilakukan melalui berbagai program pemerintah yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, hingga anak usia dini.

Program tersebut diarahkan untuk memastikan kebutuhan gizi dan faktor pendukung kesehatan terpenuhi sejak awal kehidupan. Isyana menyebut angka prevalensi stunting Indonesia berdasarkan perhitungan tahun 2024 yang diumumkan pada 2025 berada di kisaran 19,8 persen.

Sementara untuk target penurunan hingga 2029, pemerintah mengikuti sasaran yang ditetapkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dalam perencanaan pembangunan nasional yakni sekitar 14,2 persen.

“Kalau target penurunannya kita ikuti saja standar Bappenas di angkanya tapi semua target-targetnya kita akan upayakan untuk bisa tercapai,” ucap Isyana.

Menurutnya, pencegahan stunting tidak hanya dilakukan melalui pemenuhan kebutuhan gizi. Intervensi juga mencakup penyediaan air bersih, sanitasi, jamban, serta edukasi mengenai pola konsumsi dan perilaku hidup yang mendukung kesehatan keluarga.

Kemendukbangga/BKKBN juga menjalankan program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting atau Genting. Program tersebut memberikan dukungan nutrisi kepada sasaran yang belum mendapatkan intervensi dari program bantuan lainnya sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting.

Isyana menjelaskan, intervensi pencegahan stunting terbagi dalam intervensi spesifik dan sensitif. Intervensi spesifik berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, sedangkan intervensi sensitif mencakup faktor pendukung seperti air bersih, sanitasi, edukasi, dan kondisi lingkungan.

Selain pemenuhan gizi dan lingkungan sehat, Kemendukbangga/BKKBN juga mendorong edukasi mengenai perencanaan keluarga. Edukasi tersebut mencakup pencegahan empat kondisi berisiko, yakni hamil pada usia terlalu muda, hamil pada usia terlalu tua, jarak kehamilan terlalu dekat, serta jumlah anak terlalu banyak.

Isyana menegaskan, berbagai program tersebut diarahkan untuk memperkuat pencegahan stunting sejak sebelum kelahiran hingga anak melewati periode 1.000 hari pertama kehidupannya. Pemerintah menargetkan seluruh intervensi dapat berjalan secara berkelanjutan untuk mendukung pencapaian sasaran penurunan stunting nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....