Pemerintah Kabupaten Poso Tingkatkan Penanganan Karhutla di Sejumlah Wilayah

  • 15 Sep 2026 14:36 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Poso - Musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Poso sejak Juli hingga September 2026 memicu kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di puluhan titik yang tersebar di sejumlah kecamatan.

Salah satu lokasi yang masih mendapat penanganan intensif berada di Desa Pasir Putih, Kecamatan Pamona Selatan. Kebakaran lahan gambut yang meluas sejak Sabtu 12 September 2026 bahkan mendekati permukiman dan rumah makan di jalur Trans Sulawesi hingga sempat menyebabkan kemacetan panjang.

Wakil Bupati Poso Soeharto Kandar, Senin 15 September 2026 meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan seiring kondisi kemarau yang masih berlangsung. Menurutnya, kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menyebar dan berpotensi mengancam permukiman maupun kawasan perkebunan.

“Dengan kondisi kemarau yang cukup panjang dan banyaknya titik kebakaran, kita meminta seluruh masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Jangan melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan, karena dalam kondisi kering api sangat mudah meluas,” ujarnya.

Sebelumnya, kebakaran juga terjadi di wilayah antara Pendolo dan Boe pada 27 Agustus dengan luas sekitar setengah hektare. Kebakaran di sejumlah wilayah lain juga tercatat di Poso Kota Utara, tepatnya di belakang permukiman warga Kelurahan Lawanga, serta di Pamona Tenggara, termasuk lahan rawa Tabasenga, Desa Korobono, dengan luas sekitar dua hektare.

Poso Pesisir menjadi salah satu wilayah dengan titik kebakaran yang cukup banyak. Kebakaran dilaporkan terjadi di Desa Toini, Kelurahan Mapane, Desa Lanto Jaya, Kelurahan Kasiguncu, Desa Lape, Desa Towu hingga Desa Betania.

Sementara di Poso Pesisir Selatan, pemerintah kecamatan bersama Babinsa dan masyarakat aktif melakukan penanganan setiap kali kebakaran terjadi. Penanganan juga dilakukan di wilayah Lore Utara, Lore Tengah, Lore Selatan dan Lore Barat melalui posko kebakaran hutan yang dibentuk di Desa Sedoa.

Posko tersebut merupakan hasil koordinasi bersama Balai Taman Nasional Lore Lindu, Polsek, Koramil, Masyarakat Peduli Api atau MPA, serta tokoh masyarakat dan tokoh agama. Posko induk berada di Desa Wuasa. Kebakaran lahan di pinggir kawasan hutan TNLL di Desa Sedoa pada 4 September berhasil dikendalikan setelah melibatkan puluhan warga dengan peralatan semprot pertanian.

Di Lore Selatan, kebakaran tercatat di Desa Bakaekau sekitar enam hektare, antara Desa Bulili-Bewa sekitar tiga hektare, serta kawasan hutan pinus ruas Tonusu-Bomba dekat Gintu sekitar 10 hektare. Pemadaman dilakukan secara manual oleh TNI-Polri, pegawai kecamatan dan masyarakat.

Sementara itu, di Pamona Barat, kebakaran lahan kosong di Desa Meko pada 29 Agustus mencapai sekitar 15 hektare. Penanganan dilakukan masyarakat bersama kepolisian dan unsur Tripika. Di Pamona Timur, kebakaran juga terjadi di sejumlah lokasi, termasuk Desa Matialemba dan Desa Petiro serta lahan yang merembet ke perkebunan sawit PT SJA 2.

Salah satu kebakaran di wilayah tersebut pada 10 September diperkirakan mencapai sekitar 10 hektare. Penanganan melibatkan TNI, Polri, MPA, Manggala Agni, pemerintah desa, masyarakat serta tim PT SJA 2.

Kebakaran juga dilaporkan di Desa Bakti Agung, Lanto Jaya, Tampemadoro, Peura, Pandiri dan Rato'ombu. Sementara Kecamatan Poso Kota dan Poso Kota Selatan hingga kini dilaporkan dalam kondisi aman dan terkendali berkat langkah antisipasi yang dilakukan sejak dini.

Menghadapi meluasnya titik karhutla, Pemerintah Kabupaten Poso bersama BPBD, Damkar, TNI-Polri, Manggala Agni, MPA serta pemerintah kecamatan dan desa memperkuat koordinasi penanganan. Pencegahan dilakukan melalui penyebaran imbauan kewaspadaan karhutla, sosialisasi larangan pembakaran hutan dan lahan, penyebaran informasi melalui media sosial serta pembentukan posko di wilayah rawan kebakaran.

Pemerintah daerah juga menyediakan 100 unit hand sprayer elektrik untuk sejumlah kecamatan terdampak. Peralatan tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan masyarakat dan pemerintah di tingkat desa dalam melakukan pemadaman awal dan mencegah api meluas.

Dalam penanganan kebakaran lahan gambut di wilayah Pendolo, kondisi asap tebal juga menjadi tantangan bagi personel pemadam. Salah satu petugas Damkar sempat merasakan dampak asap saat menjalankan tugas, namun upaya pemadaman dan pendinginan tetap dilakukan untuk mencegah api bergerak semakin dekat ke permukiman warga.

Banyaknya titik kebakaran yang muncul hampir bersamaan membuat personel dan unit pemadam harus dibagi ke sejumlah lokasi. Kondisi tersebut menyebabkan beberapa wilayah membutuhkan tambahan personel, peralatan dan dukungan dari luar daerah.

Dukungan datang dari Pemerintah Kabupaten Luwu Timur yang mengirimkan armada Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan serta ambulans untuk membantu penanganan karhutla di Poso. Bantuan tersebut memperkuat upaya pemadaman di tengah kondisi kemarau panjang yang masih berlangsung.

Pemerintah Kabupaten Poso kembali mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan. Kolaborasi pemerintah, aparat dan masyarakat menjadi kunci mencegah kebakaran meluas serta melindungi permukiman dan lingkungan dari dampak karhutla.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....