Dari Nikel ke Nafkah : ketika Industri Menghidupkan Ekonomi Warga
- 09 Sep 2026 16:11 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Morowali – PT. Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menjadi penggerak utama penyerapan tenaga kerja dan menekan angka pengangguran terbuka di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dan wilayah Indonesia Timur. Head of Media PT. IMIP, Dedy Kurniawan, Rabu, 02 September 2026, mengatakan, hingga akhir Agustus 2026, data yang dihimpun melalui HR Departemen PT IMIP, jumlah tenaga kerja telah mencapai 98.266 orang.
Dari angka itu, 92 persen atau 90.405 orang dari Pulau Sulawesi. Dimana dari 92 persen tersebut 32 persen atau 31.445 orang merupakan penduduk Provinsi Sulawesi Tengah, dan asal Morowali sebanyak 17.688 atau 18 persen. Sementara tenaga kerja lokal Kecamatan Bahodopi ada 10.809 orang atau 11 persen. Tenaga kerja dari luar Sulawesi tercatat 8 persen atau 7.861 orang.
Sementara untuk tingkat pendidikan, 64,5 persen atau 63.382 orang adalah lulusan SMA/SMK yang telah dibekali pelatihan langsung saat menjadi karyawan IMIP. Sementara, 28,8 persen atau 28.301 orang adalah lulusan Sarjana (S1) dan 4,6 persen berijazah diploma.
“Sebagai salah satu kawasan industri pengolahan nikel global, IMIP selalu berupaya melakukan transformasi untuk dapat menjawab tuntutan permasalahan tenaga kerja. Jadi IMIP tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga membuka peluang berbagai jenjang pendidikan untuk bertumbuh dan berkarya. Karena komitmen kami meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat," ucap Dedy.
Kebijakan pengembangan hilirisasi sektor industri, menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menekan angka pengangguran, sekaligus meningkatkan lapangan kerja dan pendapatan negara. Industri pengolahan nikel turut memberi dampak terhadap dinamika perekonomian di daerah, seperti hadirnya kawasan IMIP yang memberikan kesempatan sama bagi semua pekerja di lingkungan kerja inklusif sebagai "ladang" meningkatkan kesejahteraan.
"Sudah tertuang dalam visi, misi dan nilai perusahaan, bagaimana IMIP memfasilitasi perkembangan usaha masyarakat lokal dan memberi kontribusi nyata bagi daerah," tegas Dedy.
Untuk kesejahteraan masyarakat sekitar lokasi industri, PT IMIP terus menyerap tenaga kerja lokal. Warga yang dulunya bekerja serabutan, kini setelah bekerja di IMIP mampu meningkatkan kualitas hidup dan rumah tangganya. Sejak tahun 2020, penyerapan tenaga kerja di kawasan IMIP, terus meningkat.
Jika tahun 2020 ada 35.592 orang, 2021 naik 51.542 orang, tahun 2022 sebanyak 68.466 orang, 2023 ada 74.350 orang dan 2024 sekitar 83.000 orang. Jumlah serapan tenaga kerja terus mengalami peningkatan secara signifikan setiap waktu, seiring meningkatnya nilai investasi di kawasan industri tersebut.
"Ini menunjukan animo masyarakat untuk bekerja di IMIP semakin meningkat," tandas Dedy.
Jumlah angkatan kerja di Morowali pada Agustus 2025 tercatat 85.039 orang, yang terserap sebanyak 82.653 orang dan pengangguran masih tercatat 2.386 orang. Sedangkan jika dibandingkan dengan kondisi lima tahun terakhir pada 2020, angkatan kerja Kabupaten Morowali tercatat sebanyak 57.727 orang dan terserap bekerja 54.721 orang, serta jumlah pengangguran tercatat masih 3.006 orang. Pada tahun 2025 menurun jadi 2.386 orang.
“Dari 85.039 angkatan kerja, ada 17.688 warga Morowali atau 20 persen, terserap di kawasan IMIP. Kehadiran kawasan industri berbasis nikel yang terintegrasi ini memang diarahkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat Morowali dan Sulteng secara luas.
Selain menyerap tenaga kerja keberadaan PT. IMIP juga membuka berbagai peluang usaha yang menjanjikan dan dapat dimanfaatkan, tidak hanya oleh pemerintah daerah tetapi juga masyarakat yang ada disekitar kawasan IMIP. Terbukanya sejumlah usaha pada akhirnya juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat yang tidak bisa bergabung menjadi bagian dari IMIP.
Herlin yang merupakan pelaku usaha Rumah makan mengaku keberadaan IMIP memberi dampak signifikan bagi usaha yang ditekuninya. Berawal dari mencoba peruntungan untuk bekerja di IMIP namun gagal, Herlin akhirnya membuka usaha rumah makan yang telah ditekuni selama 5 tahun.
“Jadi saya bukan asli orang Morowali, lalu mau tes untuk kerja di IMIP tapi tidak lolos. Makanya dari pada pulang kampung, saya coba buka usaha tempat makan. Alhamdulliah sejak buka 2020 lalu sampai sekarang ada terus rejekinya,” ujarnya.
Diakui keberadaan IMIP memberi dampak besar terhadap usaha rumah makannya, mengingat sasaran pembelinya tidak hanya berasal dari masyarakat sekitar, tetapi juga pekerja yang membutuhkan makanan sebelum maupun setelah menjalankan aktivitas kerja. Alih-alih menjadi pekerja kini Herlin justru menjadi pelaku usaha yang membuka lapangan kerja.
Menjamurnya usaha rumah makan disekitar kawasan IMIP, tidak hanya berbicara tentang keuntungan pelaku usaha dan kemudahan pekerja memenuhi kebutuhannya. Di balik sebuah warung makan, juga ada peluang usaha baru yang dapat dikembangkan dan menjanjikan bila ditekuni yakni usaha pemasok bahan makanan.
Perputaran ekonomi di Kabupaten Morowali akhirnya akan terus terjadi secara berkelanjutan dimana pemilik rumah makan membeli beras, sayuran, ikan, daging, bumbu dan kebutuhan lainnya. Sebagian kebutuhan tersebut dapat diperoleh dari pedagang dan pemasok di sekitar wilayah Morowali.
Kondisi ini juga menjadi bukti bahwa keberlanjutan bukan hanya tentang seberapa besar sebuah industri berkembang. Lebih dari itu, keberlanjutan juga tentang bagaimana pertumbuhan tersebut membuka ruang bagi masyarakat untuk bekerja, berusaha, dan membangun kehidupan ekonomi yang lebih mandiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....