Realisasi Investasi Sulteng Capai Rp 68,7 Triliun Semester I 2026
- 03 Sep 2026 16:44 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu – Realisasi investasi di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) mencapai Rp 68,70 triliun sepanjang Semester I 2026. Angka tersebut telah mencapai 73,17 persen dari target investasi tahun 2026 sebesar Rp93,89 triliun.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulteng Mohammad Rifani mengatakan, realisasi investasi itu tumbuh 6,97 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) dan setara dengan 6,8 persen dari target nasional sebesar Rp 1.010,6 triliun.
"Dalam peta investasi nasional pada semester satu 2026, Provinsi Sulawesi Tengah berada pada peringkat empat nasional untuk realisasi investasi keseluruhan," kata Rifani kepada wartawan di Palu, Kamis, 3 Agustus 2026.
Selain berada di peringkat keempat secara nasional untuk realisasi investasi, ia menyebut Sulawesi Tengah juga menempati posisi pertama nasional dalam capaian hilirisasi yang mencapai Rp 56,1 triliun di Semester I 2026. Angka itu setara 18,7 persen dari seluruh realisasi hilirisasi nasional sebesar Rp 300,1 triliun.
"Kenapa capaian kita termasuk hilirisasi kita itu nomor satu, karena salah satunya iklim investasi kita yang baik sehingga ini menjadi daya tarik pelaku usaha untuk berinvestasi di Sulawesi Tengah," ujar dia.
Berdasarkan jenis investasi, Penanaman Modal Asing (PMA) masih menjadi penyumbang terbesar dengan nilai mencapai Rp64,73 triliun atau 94,23 persen dari total realisasi investasi. Sementara itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tercatat sebesar Rp3,96 triliun atau 5,77 persen dari total investasi yang terealisasi pada Semester I 2026.
Dari sisi pertumbuhan, realisasi PMA tumbuh 7,98 persen secara tahunan atau meningkat sekitar Rp4,78 triliun. Sebaliknya, PMDN mengalami penurunan 7,20 persen atau sekitar Rp310 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Lebih lanjut, untuk sektor unggulan PMA didominasi oleh sektor industri logam dasar, disusul industri kimia dan farmasi, serta listrik, gas dan air. Sementara PMDN sektor yang mendominasi adalah pertambangan, disusul perdagangan dan reparasi, tanaman pangan dan perkebunan.
"Untuk sebaran wilayah, Kabupaten Morowali menempati posisi pertama untuk semester satu ini mencapai Rp 65,87 triliun, kemudian disusul Kabupaten Morowali Utara Rp 1,06 triliun, dan Kabupaten Banggai Rp 0,79 triliun," sebut Rifani.
Adapun negara penyumbang investasi terbesar di Sulawesi Tengah pada Semester I 2026 adalah Hong Kong dengan nilai Rp26,99 triliun, disusul Singapura sebesar Rp19,18 triliun dan Republik Rakyat Tiongkok sebesar Rp17,62 triliun.
Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, realisasi investasi tersebut juga memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja. Sepanjang Semester I 2026, investasi yang masuk tercatat menyerap 19.114 tenaga kerja atau tumbuh 22,29 persen dibandingkan 15.630 tenaga kerja pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Rifani, peningkatan penyerapan tenaga kerja menunjukkan investasi yang masuk ke Sulawesi Tengah semakin memberikan dampak terhadap penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat.
"Tenaga Kerja Asing (TKA) tercatat ada 1.892 orang atau 9,01 persen dari total tenaga kerja. Sehingga rasio Tenaga Kerja Indonesia (TKI) berbanding TKA adalah 10,10 banding satu," katanya.
Dengan realisasi investasi yang telah mencapai lebih dari 73 persen dari target tahunan pada Semester I, DPMPTSP Sulawesi Tengah optimistis target investasi sebesar Rp93,89 triliun pada 2026 dapat tercapai. Pemerintah daerah juga akan terus menjaga iklim investasi yang kondusif serta meningkatkan pelayanan kepada investor.
"Tentunya kita akan memberikan kemudahan kepada para pelaku usaha yang akan berinvestasi di Sulawesi Tengah," kata Rifani.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....